Kamis, 20 September 2012

Pahit Pada Akhirnya

Hari-hari membosankanpun telah terlewati . Tinggal aku menunggu hasil penerimaan mahasiswa.  Sambil menunggu, aku berlibur di rumah sendirian karena ayah, ibu ,dan kakak pulang ke jakarta. Otomatis aku sendirian di bandung, Tidak ada pembantu adapun supir yang juga ikut ke jakarta.
Hari Ini Senin, dan aku harus mengecek status ku di kampus tujuanku. Karna kumalas pergi sendirian aku mengajak  Ghina untuk menemaniku dan kebetulan juga dia satu tujuan denganku. Akupun BBM Ghina.


“Ghin, jemput gue dong. Gue Mau Ke kampus”. Pesanku singkat.
“Yaaah Ra, gue nggak boleh bawa mobil, lu aja yang jemput gw”. Jawabnya membalikan perintahku.
“Ah dasar, niat gue nyusahin lu malah gw yang susah!!!!” . Balasku

Akupun mengeluarkan mobil dari garasi keluar rumah dan mengunci pintu pagar. Meluncurlah mobilku kerumah Ghina. Sesampai disana aku tak berani tuk membunyikan bel aku hanya BBM Ghina agar dia segera turun, Semua itu karna ayahnya yang killer.

“Ghin, Turun Dong. Gue dah nyampe didepan rumah loe”. Pintaku.
“Kenapa Ga masuk aja?? Gw lagi siap-siap!!!”. Kata Ghina
“Nggak Ah. Ntar hawanya panas. Ada bokap loe kan???. Udah Cepetan Turun!!!”. Kataku
“Kenapa musti buru-buru sih???. Emangnya si Kunyuk kemana??”. Dia malah memprotes.
“Si Angga masih tidur !!!. Udah Turun aja loe!!”. Kututup Percakapan kami Di BBM.
Tak lama ghina pun keluar rumah menghapiriku. Lalu Ia Bertanya
“Haraaaaaa...., Udah lama nunggu???” dia mulai bercanda
“Berisik Loe, Udah kita cabut” Balasku kecut.
“Yeeeeh, Dia Marah. Hahahha.....”. Katanya

Sesampai di kampus aku menuju pusat infomasi
Hara Maudina, Itulah namaku. Nama itu terpampang di daftar mahasiswa baru. Begitupun Ghina. Akupun pulang dengan ceria. Tak sabar aku memberitakan ini pada orangtuaku. Karna mereka sangat mendukungku untuk masuk perguruan tinggi ini.

Beberapa minggu kemudian akupun masuk kampus dan menjalani ospek yang diselengarakan senior. Sama seperti saat smp ketika memasuki sma dulu, aku dipaksa memakai aksesoris aneh yang tentunya membuatku Mati Kutu. Tak terasa Ospek pun berjalan lancar walaupun dihiasi beberapa insiden. Contohnya Aku Pingsan waktu di suruh bersihin halaman sekolah. Untungnya ada yang nolongin dan nganter aku pulang. Kejadiannya dimulai dari sini....

“Kalian tuh harusnyanurut apa kata senior!!!!, Kalu disuruh nyapu, ya nyapu!!!!!.” Kata Seorang Senior dengan ganasnya. Tapi Setelah itu

Gubrakkk. Tiba tiba keadaan hening ketika Aku jatuh pingsan dihadapannya. Mereka semua panik dan membawaku ke unit kesehatan. Akupun Mulai Siuman dan bertanya..

“Dimana aku???”. Aku Kebingungan Dengan Ghina Di Sebelahku
“Kamu ada di ruang kesehatan!!!”. Kata Senior yang membentakku tadi.
“Ohhh. Jam berapa sekarang”. Aku Bertanya kembali.
“Sekitar Jam Setengah 4 Sore, Kamu mau Pulang???”. Dia menawarkanku untuk diantar pulang. Akupun hanya mengangguk, dan bertanya kepada ghina.
“Mana Angga, Ghin????”
“Angga masih ada ospek, Tadinya sih dia memang disini!.” Kata Ghina
“Angga itu Pacar kamu ya!!” Kata Sony.
“Iya Kak.” Kataku lemas.

Akupun pulang diantar pulang oleh Sony, aku mengetahui namanya dari name tag yang terpasang di jas almamaternya. Akupun sampe di rumah dengan keadaan masih lemas dan keluargaku masih berada di jakarta. Aku mengajaknya masuk.

“Makasih yaa kak, Inilah rumahku. Ayo masuk.” Tawarku.
“Ya makasih, Ini Kunci mobilnya.” Dia menyerahkan kunci mobilku
“Udah Simpen aja Ntar kakak pulang pake apa???. Paling besok aku ambil!!”. Kataku Menolaknya mengembalikan kunci mobilku.
“Ohhh ya udah. Ngomong ngomong kamu sendirian di sini!!!” Tanyanya.
“Iyaa. Keluargaku ada di jakarta kak.” Jawabku.
“Ohhh yaudah kakak pulang dulu yaa. Ntar Besok aku jemput.” Dia Pun berpamitan
“Ya. Hati hati ya kak” 

Tak lama Kemudia Terdengar mobil angga dan suara derit ban. Kiitttt...... Begitu Kencangnya bunyi itu.

“Hara Kamu ngga apa apakan???” Katanya sambil panik.
“Ngga, Aku cuman butuh istirahat aja kok!!”.
“Sukurlah. Kamu Dianter Senior ya. Tadi ghina Ngasih tau aku.”
“Yaaa. Ayo masuk. Diem aja diluar, dingin tau!!!” kataku Protes
“Iyeee. Gue Juga Tau”. Dia balik Protes.
“Mau Nginep di Sini???, Klo Mau Pake kamar kakak Gue Aja”. Tawarku, Memang Dia Sering menginap di Rumahku dan tidur di sofa. Walau begitu kami tak pernah macam macam lho...
“Iya Udah Deh. Disini Sepi ga ada Yang Jagain kamu”. Dia pun mengiyakan saja.

Pagi Ini aku diantar angga dan BBM Sony supaya Tidak Usah menjemputku. Aku satu jurusan dengan Angga. Angga mungkin cowok paling perfect dimataku, Aku tak pernah merasa sedih di sisinya. Aku selalu di sayangnya, aku pikir dialah cowok paling romantis bagiku. Contohnya hari ini, bahkan akupun tak tahu hari ini aku ulang tahun tapi angga selalu ingat. Disiapkannya kejutan untukku, Diapun bekerjasama Dengan Ghina. Kata ghina Aku harus ke cafe tempat biasa nongkrong sore ini.

“Ra, loe bisa dateng ke kafe ga sore ini??? Ada yang mau Gue kasih tau”. Kata ghina
“Bisa, Emang Ada Apa Ghin???”. Jawabku
“Udah Loe datang aja, ini penting”. Katanya Lagi
“Iyee, Ntar gue kesana”. Jawabku

Akupun Bersiap-siap untuk pergi ke kafe. Aku keluarkan mobilku dari garasi dan menuju kesana. Tak lupa aku kenakan gaun sesuai apa yang diperintah ghina. Okelah aku nurut kali ini. Akupun sampai di tujuan.

“Ada apa sih?? Kayaknya penting banget. Mana gue disuruh pake gaun segala lagi??”
“Udah loe tunggu aja”. Katanya membalas pertanyaanku
“Iyaaa. Tapi Ada apa. Katanya ada yang mau di kasih tau”. Tanyaku Ngotot.
Tiba-tiba Angga datang. Dan
“Kejutaaaaaan”. Kata angga, Ghina dan teman teman lainnya.
“Anggaaa. Ada Apa ini???”
“Hari ini kamu ulang taun. Happi Birthday ya Hara!!!”
“Ohhhh Iya Aku hampir Lupa. Makasih ya sayang....”. Kataku Sambil menitikkan airmata karna haru.
“Sama2 sayang. Aku masih punya kejutan untuk kamu”
“Apaa?”
“Nih”. Katanya sambil membuka tirai yang isinya semua orang satu kampus. Mereka semua Baris teratur yang membentuk tulisan I love U. Dari Lantai 2 aku melihatnya dengan jelas.
“anggaaaa.....”
“Ya. Ada apa??”
“Kamu ngasih tau semua orang kecuali aku!!!” Kataku pura pura marah.
“Loh kok malah marah. Kan Kejutan, kalo kamu tau bukan kejutan namanya”. Kata Angga membalas santai.
“Ihhh, kok malah santai sih. Kenapa sih dia sesabar ini??” Aku Bertanya Dalam hati. Karna dia tak pernah marah walau aku sudah membuatnya bete abis, Dia Ngga Pernah marah!!.
“Iya Sih. Aa...” Kataku menjawabnya tapi tiba tiba aku menjerit karna dia langsung menggendongku kemobilnya.

**
“Kita mau kemana??” Tanyaku.
“Udah Ikut aja. Ghina Juga tau kok, nih pake ini dulu”katanya sambil menyerahkan kain penutup mata.

Akupun memakainya dan tak lama kamipun sampai.Ternyata aku dibawa ketempat yang aku paling suka yaitu di atap gedung tinggi pada malam hari dan disana ada meja yang terdapat lilin diatasnya. Kembali aku terharu dan meneteskan air mata. Dan anggapun bertanya

“Loh kok malah nangis” Angga bertanya kebingungan
“........mmmhh.....” Aku hanya mengelengkan kepala takbisa berkata kata
“Ada apa. Kamu takut ketinggian?? Atau kamu nggak suka??” Dia semakin kebingungan.
“so sweet banget!!!” akhirnya aku bisa berkata.
“Ohhh. Tapi kamu keliatan sedih. Apa kamu mau pulang??” kata angga
“Yaudah kita pulang yuk” katanya lagi.

Aku yang takbisa berkata kata pun nurut saja. Kami pun turun. Sesampainya di lantai bawah, keadaannya gelap. Akupun memeluknya, tapi tiba tiba dari kegelapan muncul cahaya lampu berwarna yang bertuliskan “I Love U”. Ternyata ghina, dan lainnya sudah merencanakan semua ini secara matang yang tentunya atas kemauan angga.

Sudah cukup aku merasakan semua ini, tapi masih saja perasaan itu menganjal di benakku. Malah persaan ini seakan menjadi jadi saat ini. Aku pun makin tak tenang.

Angga pun mengajakku pulang. Sedangkan mobilku ghina yang bawa. Kamipun pulang membelah pekatnya malam. Tapi ....

Bukkkk
Mobil kami terguling guling sampai ringsek tak karuan. Aku Masih sadar dalam keadaan mobil terbalik. Akupun berusaha keluar mobil dibantu supir truk yang menabrak kami secara kencang itu, Setelah itu aku membantu angga keluar. Tapi Angga tak sadarkan diri, aku menelpon ambulance. Aku hanya bisa menangis dan menangis. Sampai diruang UGD angga masih tertolong. Di Bilang Padaku

“Hara sayang, jangan nangis dong. Kan Aku Masih selamat” Katanya membujukku untuk tidak menangis

“Tapi aku khawatir sama kamu......” Kataku. Mungkin ini perasaan ku itu selama ini, Angga Akan mendapat musibah.

Tapi Semua Itu Belum berakhir. Dua minggu kemudian angga pun pergi meninggalkan ku. Aku Yang Berniat membesuk dia, malah Aku menerima kejadian yang tak di inginkan ini. Dia meninggal, Aku Hanya menangis Sekencang kencangnya. Sebelum di pergi, dia bilang padaku.
“Hara, Kamu Pegang ini ya. Aku mau kamu dengar rekaman ini. Aku udah di jemput!!!” Katanya Lemas

“dijemput??. Sama Siapa??” kataku kebingungan sambil mengambil Memory card yang ada ditangannya.

“itu ada disana. Aku mau pergi..... Selamat tinggal Hara”. Katanya sambil menunjuk ke Pintu kamar, dan beberapa detik kemudian ia pun pergi, tak bernafas kembali.

Akupun sangat terpukul saat itu. Satu bulan aku bolos kuliah, aku hanya diam dalam kamar. Semua orang sangat prihatin melihatku, Aku nggak Nafsu Makan apalagi ketemu orang. Ghina hanya membujukku dan meminta agar memutar rekaman yang diberi oleh angga. Akhirnya aku mau. Kamipun memutarnya dikamarku. Angga bilang

“Hara, aku tau aku udah ngga lama lagi ada di muka bumi ini. Tapi aku sayang banget sama kamu. Sumpah aku ngga pernah bisa tidur karena kamu, aku hanya memikirkan kamu. Hara, semoga kamu bahagia dengan laki-laki yang kamu sayang. Tapi aku ingin kamu nggak ngelupain aku. Aku merencanakan untuk melamar kamu ketika lulus nanti. Tapi waktu berkata lain. Ternyata aku dijemput lebih awal. Aku Mohon kamu jangan sedih, Jika Kamu Sedih aku pun tak tenang meninggalkanmu!!!. Semoga kamu bahagia di dunia sana. Aku tidak bisa apa-apa. Aku akan senang bila melihat kau bahagia!!!. Aku Tau Mungkin kamu lagi menangis di bawah sana, tapi please janganlah menangis terus menerus, itu membuatku tak tenang!!!. Mungkin aku akan senang jika kammu bersama sony. Aku merasakan sonylah yang pantas menjadi penggantiku. Tapi bagaimanapun kau adalah hal yang terindah yang pernah ku miliki. Hara, I Love You!!!” Angga merekam kata-katanya.

Aku hanya bisa bersedih, ditinggal orang tersayang itu ternyata berat!!!. Ternyata Benar Perasaanku Selama Ini aku akan kehilangan angga untuk selamanya!!!. Mungking dulu aku merasa aku cewe paling beruntung, Memang. Tapi Sekarang Aku merasa menjadi cewe paling bersedih di dunia ini. Ditinggal Orang Paling romantis yang pernah aku kenal. Tapi Aku harus mulai hidup baru bersama orang lain. Dan pasti aku tak akan pernah melupakannya. Angga aku sayang Sama Kamu!!!
TAMAT

Cerpen Ayah - KOSONG

“Ada apa Yah?”
“Tidak apa-apa nak. Cuma tangan Ayah rada sakit.”
“Sakit? Yang sebelah mana Yah? Biar Cika pijitin.”
“Beneran nih? Entar jangan-jangan gak niat, cuma omong
doang.”
“Iiiih Ayah. Orang Cika lagi serius juga. Ya udah kalau nggak
mau dipijitin, kan
Cika yang untung. Weeeeek...”
“Hahaaa, iya-iya..nih, sebelah sini nih yang sakit. Dipijitin yang
bener ya nak,
nanti kalau ada pentholnya Lek Ndhut Ayah beliin.”
“Beneran? Sir, yes sir!!”

Sore itu, tidak terasa firasat apapun. Kedua orang ini, Cika dan Maryono, anak dan bapak melakoni kebiasaan mereka sehari-hari atau mungkin sesore-sore, bercengkerama di kursi teras. Sedangkan ibunya, Surhaningsih menyiapkan makan malam di dapur. Mereka selalu bercanda ria, melepas dan mencurahkan semua penat masing-masing, menceritakan apa yang telah mereka alami di pagi hari tadi kepada masing-masing pula.


Riang serta gembira. Begitulah kata-kata yang dapat melukiskan suasana di dalam keluarga harmonis ini. Cika setiap sore menunggu kakaknya pulang dari sekolah bersama dengan ayah dan ibunya. Haaaah, memang membahagiakan bukan kepalang. Setelah kakak datang, mandi, kemudian mereka berempat menunaikan ibadah Sholat Maghrib bersama. Ayah menjadi imam, yang lainnya menjadi makmum. Setalah sholat Maghrib, mereka makan bersama sambil menonton televisi di ruang keluarga.


Kemudian dilanjutkan kembali acara curhat. Saat ini giliran sang kakak yang menceritakan keluh kesahnya terhadap hari itu. Tentang teman-temannya, pacarnya...cuit cuiiit, dan yang utama tentang pelajaran yang diterimanya. Bisa dibilang keluarga ini adalah salah satu keluarga berpendidikan. Meskipun orang tua bekerja sebagai seorang petani, anak-anaknya sering mendapat ranking di kelas. Hal tersebut juga merupakan didikan kedua orang tua ini yang mengajarkan kepada anaknya cara-cara tertentu agar berhasil dalam belajar.


Setelah acara curhat selesai, mereka akan guyon-guyon alias bercanda. Dan anggota keluarga yang paling sering bercanda antara satu dengan yang lain adalah Cika dan bapakanya. Ia dan ayahnya sering bercakap-cakap dengan cara membolak-balik kata. Misalkan ia berkata: “Aku pengen tuku bakso (aku ingin beli bakso)”, dibalik secara tidak beraturan menjadi “Ka’u ngepen ukut sakbo”. Kemudian, ia dan ayahnya juga sering bermain teka-teki dengan taruhan uang, dan paling sedikit adalah Rp.5.000,-. Misalkan ada teman Cika yang meminjam alat gosok di rumahnya. Ayahnya berkata,”Habis.....apa Cik? Lanjutkan! Nanti ayah beri uang Rp.50.000,- kalau benar.” Maksud aslinya yaitu habis pinjam dikembalikan. Tetapi yang menjadi jawabannya adalah merupakan makna tersendiri di luar maksud aslinya.


“Hmmmmm....apa yha...? Habis gelap terbitlah terang
mungkin?”, Cika menerka.
“Adduuugh!! Sontoloyo!!! Kok yha beneer....ayah kan jadi rugi
Cik. Ckck. Priben tho.”
“Lha kan yang suruh tebak ayah sendiri...jadi yang salah
siapa? Yang untung siapa? Hahahaaaaaaaaa.......”
“Ya udah. Ayah nyerah degh. Anak muda memang pintar
bercicit”
“Owww...so pasti donk. Mana uangnya?”
“Heheee...berhubung ayah belum punya uang, gimana kalau
besok ayah cari, tetapi cari uang kan butuh tenaga, makanya
kamu pijitin sekarang. Gimana?”
“Ahh ayaaaah......yo wes nho.”
“Siiiiippp..”

Ia juga paling suka menggigit dengkul ayahnya itu. Setelah tergigit, ayahnya akan menyerangnya balik dengan menggelitikinya hingga ia ketawa ngakak. Apabila perang ini terus saja berlanjut, geledeg dari mulut ibunyalah yang akan menghentikannya. Merekan berdua akan diam seketika apabila hal ini terjadi. Hanya sang kakak saja yang masih berani cengengesan melihat tingkah laku keluarganya.

Malam itu, ayahnya terbangun karena merasakan sakit di tangan sebelah kanannya. Ibunyapun juga ikutan terbangun. Mereka akhirnya tidak bisa tidur, karena sekali terbangun, ayahnya tidak akan bisa tidur kembali, dan terpaksa ibunya menemani. Mereka aka bercerita tentang tetangga-tetangga yang kadang membuat jengkel, dan topik yang paling sering adalah mengenai anak-anaknya.


Paginya, tangan ayahnya kambuh lagi. Mereka segera memeriksakannya ke dokter di Madiun. Bagai ada petir yang menyambar kepala mereka, bagai terperosok ke dalam jurang terdalam di Arizona, kabar itu menusuk hati mereka. Ayahnya difonis menderita penyakit tumor ganas di dekat paru-paru kiri. Fonis ini telah dapat dipastikan benar karena telah dilakukan berbagai uji laboratorium.



Segera setelah mendengar kabar buruk ini para tetangga datang memberi dorongan keluarga ini bahwa ayah Cika akan segera sembuh. Meskipun Cika tahu bahwa hal ini mustahil terjadi, namun ia tetap percaya akan keajaiban Tuhan.


Tanpa pikir panjang, mereka pada memutuskan agar ayahnya dirawat inap di rumah sakit umum daerahnya. Cika tetap menjalani kehidupannya sebagai seorang anak yang berbakti sekaligus pelajar seperti biasanya, meskipun pikirannya masih agak terganggu perihal ayahnya. Setiap pulang sekolah ia nebeng tetangganya yang akan menjenguk ayahnya. Semua aktifitas dilakukannya di rumah sakit. Mandi, sholat atau ibadah lain plus berdo’a untuk kesembuhan ayahnya, makan, tidur, bahkan belajar pun dilakukannya di sana. Tidak pernah sekalipun ia meninggalkan ayahnya barang sehari. Kemudian esok harinya, ia nebeng lagi dengan pamannya yang belanja sayur di pasar untuk dijual di daerahnya. Ia mandi, ganti baju, dan sarapan di rumah. Baju-bajunya dicucikan oleh bibinya. Setelah pulang sekolah ia kembali menghabiskan waktu bersama ayah dan keluarganya di rumah sakit. Demikian hal ini diulang-ulang selama kurang lebih satu minggu.


Setelah kurang lebih satu minggu ayahnya dirawat inap di rumah sakit itu, pihak rumah sakit mengusulkan untuk mem-bawa ayahnya ke Rumah Sakit Moewardi di Solo untuk men-dapat perawatan lebih lanjut. Mendengar keputusan ini, hati Cika sangat ngilu. “Ya Allah, penderitaan apa lagi yang Kau berikan kepada ayahku. Berilah ia kesembuhan ya Allah.”. Ia terus berdo’a sepanjang waktu. Tak ‘kan bisa ia tidak melihat wajah ayahnya barang sehari saja, karena , ayahnyalah yang membuatnya berlari kencang mengejar prestasi. Tapi mau apa lagi. Bila ini memang jalan terbaik agar ayah tercintanya bisa sembuh, ia merelakannya pindah ke Solo.


Ketika ayahnya telah resmi menjadi pasien RS Moewardi di Solo, ia kembali menekuni aktifitasnya seperti sehari-hari sebelum ayahnya sakit. Hanya bedanya, ia menjalani detik-detik subuh hingga petang tidak lagi bersama sang keluarga terkasih, tetapi bersama paman-bibinya yang bertempat tinggal di seki-tar rumahnya. Sungguh malang nasibnya. Ia tidak memiliki te-lepon untuk menelepon ayah, ibu serta kakanya di Solo sana. Ia berusaha keras memendam rasa kangen yang sangat sangat ke-pada mereka. Tidak pernah sekalipun ia menangis. Ia berusaha menjadi seorang gadis yang tegar dan tabah di mata orang lain. Teman-teman di sekolah pun berusaha menghiburnya, tetapi sekali lagi, Cika tak pernah tidak menunjukkan keceriaan dan kejahilannya, meskipun di dalam, ia serasa ingin menjerit, lari dari kenyataan pahit dunia.


Suatu hari, kabar terburuk sedunia itu pun datang. Pera-saan yang menusuknya ini tidak akan bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sungguh, sungguh mustahil dipercaya. Inalilahi wainailaihiroji’un. Ia telah kehilangan ayah tecinta, terkasih dan ayah nomor satu di dunia-nya. Cika. Kali inilah pertama kalinya aku melihat matanya bercucuran banyak air mata. Ia menjerit-jerit histeris, mengungkapkan rasa tidak terima, marah dan kecewanya kepada Tuhannya. Sangat menyedihkan melihat Cika yang seperti ini.


“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Ayaaaaaaaaaaaaaaaahh........kembalilah!!!! Ya Allah, kau tega ya Allah. Mangapa Kau mengambilnya dariku? Buat apa Kau menciptakan seorang ayah yang sempurna untukku apabila pada akhirnya Kau rampas lagi ia dariku? Aku belum sempat mengucapkan rasa terimakasihku untuknya. Aku belum sempat mengucapkan berjuta maaf kepadanya. Ya Allah, cobaan apa ini? Apakah Kau ingin menguji rasa sayangku kapadanya? Apa Kau hanya ingin bermain dengan perasaanku? Atau mungkin, Kau ingin menguji imanku kapada-Mu? Ya Allah, kembalikan dia. Kumohon..........”Tangisan dan teriakan Cika membahana di seluruh sudut lingkungan sekitar rumahnya. Apalagi semua orang telah berkumpul di depan rumahnya karena mendengar berita ini.


“Sudahlah Cik, jangan kau hakimi Allah dengan diambilnya nyawa ayahmu. Relakanlah ia pergi. Biarkan ia tidur nyenyak di sana. Ini sudah merupakan sebuah takdir. Apakah kau ingin melihat ayahmu menderita karena tidak lekas sembuh, ataukah kau ingin melihat ayahmu tidur dengan sebuah senyuman tersungging di bibirnya?”, bibinya berkata.


“Aku ingin ia tidur dengan nyaman dan tenang”, Cika menjawab.
“Baiklah. Kalau begitu. Sekarang dengarkan kata-kata bibi. Berhentilah menangis, ambil air wudhu, lakukanlah ibadah Sholat Maghrib selama yang kau mau. Kami akan berada di sini menunggumu”, bibinya berkata.


“Baiklah Bi.”
Cika segera menghapus eluh di pipinya. Ia berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Kemudian ia menjalankan sholat Maghrib dengan kusyu’ dan memohon maaf kepada Allah karena ia merupakan salah satu hamba yang durhaka kepada-Nya.


“Ya Allah, maafkan diriku yang memalukan dan rendah ini yang telah menghina-Mu. Aku memohon ampunanmu untuk memaafkan semua kesalahanku kepada-Mu ya Allah. Bukakan-lah pintu terang yang dapat membawaku kepada perasaan sadar bahwa ayahku adalah Kau yang menciptakan, sehingga dapat Kau ambil kapanpun Kau mau. Jauhkanlah diriku dari segala setan yang dapat membuatku ingkar kapada-Mu ya Allah. Ya Allah, kali ini tolong kabulkanlah permintaanku. Aku ingin agar ayahku dapat tidur tenang, tentram, serta nyaman disisi-Mu. Jauhkanlah ia dari siksa api neraka serta siksa kubur. Terimalah semua amal ibadahnya ketika ia masih Kau beri nafas. Ampunilah dosa-dosanya. Pertemukanlah kembali kami sekeluarga di dalam surga-Mu. 

Dan, bagi kami yang ditinggalkan kumohon, berikanlah kami kesabaran dan ketawakallan, serta keikhlasan untuk melepaskannya pergi. Berikanlah kami iman yang kuat, sehingga dapat selalu menjadi hamba yang berbakti kepada-Mu. Amin, amin, amin ya robbal ‘alamin.”, pinta Cika kepada Tuhannya.


Jenazah ayahnya telah tiba. Ia membuka kainnya, dan melihat wajah ayahnya yang tampan dan rupawan di sana. “Jangan, jangan menangis Cik. Tahanlah! Jangan membuat ayahmu terluka!”, batinnya.


Semua pelayat menangis tersedu-sedu tidak percaya akan hal ini. Ibu, kakak, paman serta bibi baik yang dari ayah ataupun ibunya, semua pada menangis. Tetapi Cika tidak. Ia telah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa setetes air matapun tak kan jatuh di hari itu.


Jenazah telah dimandikan, disholatkan dan siap diantarkan ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Sebagian pelayat ikut memakamkan atau lebih tepatnya melihat prosesi pemakaman dan sebagian lagi menemani ibunya Cika di rumah.


Mereka telah sampai di tanah makam dan bersiap manguburkan ayahnya, tatapi Cika berteriak. “Tunggu!!!” Kemudian ia bersajak....
“Ayah.......
Kutahu kau mendengarku....
Kutahu bahwa kau tahu ini suara anakmu.....
Meskipun ku tahu kau takkan mampu dan tak kan pernah
mampu lagi membalas kata-kataku untukmu, tetap ‘kan ku
ungkapkan apa yang ada dalam lubuk hatiku...
Maaf, terima kasih dan selamat jalan ayah tercinta, ayah
kebanggaan, ayah sepanjang hayat dan ayah ternomor satu di
dunia-ku.......
Semua cinta, perhatian, keringat, serta pengorbanan yang
telah kau curahkan kepadaku takkan kulupakan sepanjang
diriku masih diberi nafas hingga menjemput ajal..
Jo’o ilal, sayempan dukug mpamir nang pingiku basen
binge....eok?
(Ojo lali sampeyan kudug mampir neng ngipiku saben
bengi...oke?)
(Jangan lupa, kau harus singgah di setiap mimpiku.....oke?)”

Pemakaman telah usai. Ia dan kakaknya masih saja duduk di samping nisan ayahnya. Mereka bersama-sama mengenang masa-masa yang telah mereka lalui bersama sang ayah. Mereka berjanji satu sama lain, mulai saat ini tak kan pernah lagi tinju-tinjuan seperti dulu. Mereka berjanji akan selalu datang dan menjenguk ayahnya di setiap hari Minggu. Mereka berjanji mulai saat ini akan membanggakan ayahnya dengan berprestasi setinggi mungkin. Mereka berjanji akan membawa nama harum ayah serta ibunya hingga nanti mereka tak diberi nafas lagi. Dan, mereka berjanji pula untuk membahagiakan ibunya yang merupakan titipan ayahnya.



Keesokan harinya Cika masuk sekolah. Teman sekelas berusaha mati-matian untuk membuatnya tertawa. Jangankan tertawa, membuatnya tersenyum saja sudah minta ampun susahnya kok. Mulai saat itulah ku tahu, bahwa Cika telah kehilangan separuh dari keceriaan, kejahilan, dan kekocakannya selama ini. Mulai saat itu pula ku tahu bahwa cahaya yang dulu kulihat selalu terpancar dari matanya telah menghilang separuh. KOSONG. Begitulah yang kulihat ketika kami beradu pandang. Sabar ya sobat. Cobaan akan selalu datang pada hamba yang disayang Tuhannya.


Cerpen ini kupersembahkan untuk ayahku tercinta, ayahku nomor satu
di dunia, ayah kebanggaan, dan ayah tersempurna di antara ayah yang pernah ada.

Ayah,...maaf, terima kasih, dan selamat jalan....


Love u 4ever dadddd.....................

Bintang Paling Bersinar


Apakah perpisahan itu benar-benar ada? Akankah datang untuk mengampiriku? Aku harap tidak! Aku tak mengerti apa arti hidupku dengan datangnya perpisahan.


Kenalin, ini sekolah gue, SMA Purnama Sakti. Gue bangga sekolah disini. Karena disini, gue bisa kenal sama yang namanya persabatan, persaingan, terlebih lagi tentang cinta. Gue duduk di kelas xi, tepatnya xi a 2. Ya, emang lagi masa labil-labilnya. Lagi masa-masanya ego gue tinggi. Ya, biasalah kalau lagi masa labil semuanya juga pasti sama kayak gue. Lo juga gitu kan kawan? Masa dimana kita itu pasti lagi penasaran sama yang namanya cinta. Walaupun cinta itu nyakitin, bikin nangis, bikin kita ga mau makan, ga mau minum, ga bisa tidur. Pokoknya cinta itu bisa bikin kita gila. Tapi, ya gitulah namanya cinta. Selalu mengundang tanda tanya yang sama sekali ga ada jawabannya.

***

Seudah gue ngenalin diri gue dan sedikit persepsi gue tentang cinta, sekarang ganti topik. Oke, kenalin ini temen gue yang lebih tepatnya adalah sahabat gue. Sahabat yang bener-bener sahabat. Ia selalu ada setiap gue butuh, ga kenal lelah buat bantu gue. Malah gue udah anggep dia sebagai sodara gue sendiri. Kebersamaan itu mungkin sekarang telah berubah menjadi persaan yang mungkin ga mungkin buat gue ungkapin ke dia. Tapi yang pasti, dia selama-lamanya bakal menjadi separuh kepingan hati gue, Andi namanya. Sobat, gue tau gue ga bakalan mungkin ngungkapin persaan gue ke dia. Pertama karena dia udah gue anggap sahabat, kedua karena gue itu cewek yang ga berani buat ngungkapin perasaan gue. Jadi, gue berusaha bersikap sewajar-wajarnya ke dia. Tapi sayang, belakangan ini dia sring memilih untuk menghindar dari gue

“Andi..” Panggil gue setengah berteiak. Andi membalikan badannya tepat ke arah namanya terdengar. Gue berlari ngedeketin Andi.

“Lo sombong ya sekarang. Udah ga mau maen lagi ke rumah gue. Ga mau ngerjain PR bareng gue lagi. Lo kenapa sih? Gue punya salah sama lo?” Tanya gue heran.

Andi hanya tersenyum dengan pertanyaan-pertanyan gue. Dari situ, gue mulai lebih ga ngerti lagi dengan apa yang terjadi pada Andi. Lalu gue pasang muka sebal. Tapi Andi malah nyubit pipi gue dengan keras sampai pipi gue sakit. Setelah itu dia ga ngomong apa-apa lagi. Dia malah pergi ninggalin gue tanpa sepatah katapun. Gue berniat untuk memanggilnya kembali tapi gue urungkan niat gue dan membiarkannya untuk pergi ninggalin gue. Mungkin dia ada sedikit problem yang ga bisa diceritain ke gue untuk pertama kalinya.

Gue pulang ke rumah sendiri. Biasanya gue kemana-mana bareng sama dia. Pokoknya dia selalu bilang kalau dia ga mau liat gue sedih, nangis dan kecewa. Tapi, kenapa sekarang dia bikin gue kecewa dengan sikapnya yang aneh dan ga bisa gue artiin. Kemana Andi yang selama ini selalu lindungin gue? Bahkan nganggap gue sebagai adiknya, bukan seseorang yang ada di hatinya. Tapi ga apa, itu juga udah lebih dari cukup biar gue pendam sendiri dan tetap diam dalam kebisuan gue akan perasaan gue.

Sehari, dua hari, tiga hari, seminggu, sebulan, dan gue ga kuat kalau harus jalanin hidup gue tanpa dia. Walaupun hanya sekedar kakak, tapi itu sangatlah berarti. Gue coba menghubungi no handphonenya, tapi tak kujung dia angkat. Lalu gue beranikan diri untuk menghubungi no telepon rumahnya.

“Hallo” terdengar suara lembut tante Marissa yang tak lain adalah mama dari Andi

“Hallo, Tante. Ini Clara.” Jawabku

“Oh, ada apa Clara?”

“Em, Andinya ada Tante?”

Pertanyaan barusan yang gue lontarkan menimbulkan detik-detik menjadi kosong. Suasana hening, seakan Tante Marissa bingung dan tak menmpunyai jawaban untuk pertanyaan gue barusan.

“An, Andi?”

“Iya Tante, ada ga?”

“Ga ada sayang, tadi dia bilang mau keluar.”

“Oh, ya udah deh Tan, makasih ya Tante. Nanti kalau dia pulang tolong sampein aja kalau aku sempet nelpon ya. Makasih Tante..”

“Sama-sama”

Tut..tut..

Lalu sambungan telepon itu terputus. Terlintas di pikiran gue lagi tentang perilaku Andi dan juga Tante Marissa yang mulai memberikan perlakuan beda terhadap gue.

Gue berjalan dengan langkah yang tergesa-gesa menuju kamar gue. Tepat di depan cermin, gue memutuskan untuk memandangi diri gue sendiri dan me-review perilaku-perilaku gue dari mulai gue kenal sama Andi dari dulu sampe sekarang. Gue emang sering jail, tapi ga kelewat batas. Gue juga sering ngomong ceplas-ceplos ke dia tapi dia juga suka nanggapinnya dengan santai dan tak pernah terlihat ada sedikitpun dendam maupun amarahnya terhadap gue selama ini. Lalu, apa yang membuat dia menjadi seperti ini? Tuhan, ini sangat membatinkan..

***

Sekarang gue berpikir, lebih baik hidup tanpa Andi daripada harus dicuekin kayak begini, cuma bikin gue makan hati aja. Sekarang gue pergi kemana-mana sendiri, ga perduli Andi ada atau engga. Di mata gue sekarang Andi udah musnah, Andi bukan Andi yang gue kenal dulu. Dan gue janji, gue ga bakalan perduli lagi dengan apapun tentang dia. Seperti dia yang udah ngehindarin gue selama ini dan membuang rasa perdulinya pada gue. Dan gue bakalan lakuin hal yang sama.

“Clara, liat deh itu ada apa? Kok pada rame gitu ya?” Tanya Anita, temen gue saat gue dan dia melewati lapangan.

“Ga tau, dan gue udah ga mau tau” ucap gue waktu itu.

“Lo, kenapa sih? Kok jadi berubah drastis gini! Lo gila ya?”

“Lo tau kenapa gue jadi seperti ini? Lo liat dong, Andi yang sebegitu perhatiannya sama gue, sekarang malah ngehindarin gue dan ga perduli lagi sama gue. Dan itu artinya buat apa gue merduliin orang lain, kalau nyatanya orang lain juga perdulinya cuma sesaat sama gue!”

Anita mengerutkan matanya, lalu dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya udahlah, urusan lo!” Ucapnya lalu pergi ninggalin gue.

Gue ga mendekat. Yang sebenernya gue juga penasaran dengan apa yang terjadi ditengah kerubungan. Hingga akhirnya gue memutuskan untuk pulang. Sesekali gue nengok ke arah sana, gue liat orang yang tadi dikerubungin digotong oleh siswa laki-laki ke dalam mobil. Sepertinya akan dibawa ke rumah sakit.

***

“Claraaaaaa...” Panggil mama gue dari bawah.

“Iya maaa..” Jawab gue dengan nada malas karena masih ngantuk.

“Sini sayang, pentiiiing.”

“Ada apa sih ma?” Tanya gue penasaran. Dengan berat hati gue turun dari lantai 2 menuju lantai dasar.

“Sayang, jaga rumah ya.”

“Hah? Cuma gitu doang kok, kata mama penting.” Protes gue.

“Iya lah penting. Mama mau ngejenguk dulu Andi di rumah sakit. Kamu kan pasti udah sering kesana. Gimana perkembangannya?”

DEG.. Jantung gue seakan terhenti. Apa yang mama bilang? Andi di rumah sakit? Dia kenapa? Gue ga pernah ngejenguk, gue bahkan ga tau kalau Andi ada di rumah sakit.gue harus gimana? Apa yang harus gue bilang sama mama.

***

Di saat waktu kosong, gue nyempetin dan beraniin diri gue buat datang ke rumah sakit.

“Kenapa lo datang Ra?”

Anita ngelirik sinis sama gue. “Oh iya, lo mau ngejenguk siapa Ra? Apa ada yang harus lo jenguk? Atau lo mau ngejenguk seseorang yang menurut lo ga merduliin lo?” Tanyanya dengan nada yang sangatlah super sinis.

“Sebegitu bencinya lo sama gue? Sampai nada bicara lo sinis kaya gitu?” Tanya gue dengan air mata yang siap meluncur.

Anita berdiri dari bangku ruang tunggu. “ Harusnya lo nanya ke diri lo sendiri. Sebegitu bencinya lo sama orang yang jelas-jelas merduliin lo?” Lalu dia pergi ninggalin gue.

Gue melangkah menuju ruangan dimana Andi dirawat.

Tok.. Tok.. Tok..

“Masuk” terdengar suara Tante Marissa yang sepertinya sedang menangis meratapi anaknya. Gue membuka pintu dengan perlahan. Mengartikan apa yang sebenarnya terjadi.

“Tan.. Tante..” Gue menunduk dan mendekati Tante Marissa lalu gue memeluknya.

“Maaf Tan,” ucap gue dengan tangis yang bisa gue tahan.

“Tante yang harusnya minta maaf. Tante tau, sikap tante sama Andi pasti bikin kamu kecewa. Tapi Andi terlalu sayang sama kamu sampai dia ga mau kamu tau tentang keadaan dia sekarang.” Ucap Tante Marissa. Mata gue berbinar, menetes dan terus menetes. Mengharapkan kejelasan tentang apa yang Tante Marissa bilang ke gue.

“Andi berpenyakit Clara, kamu dapat lihat sendiri dengan tak berdayanya Andi membiarkan tubuhnya terkapar. Dia selalu ingin melindungimu, tetapi dia tak bisa melindungi dirinya sendiri. Belakangan ini dia sering jatuh pingsan, otaknya terasa terlalu berat. Tapi dia hanya bisa menyembunyikan semua itu di hadapanmu. Dia ga mau liat kamu sedih, lebih baik melihat kamu membencinya daripada harus melihatmu untuk menangisinya.”

Gue terdiam sejenak. Mencerna apa yang diucapkan Tante Marissa.

“Ja.. Jadi..” Mata gue terpejam perlahan. Semua kenangan manis diantara gue dan Andi ternodai oleh keegoisan gue. Suasana hening. Tiada kata-kata lagi dari mulut Tante Marissa. Ia pun tela terhenti dari tangisnya krena nafasnya telah terengah menahan kesakitan ini. Gue duduk di dekat Tante, lalu gue mendengar perut tante yang berbunyi. Sepertinya ia lapar, mungkin ia belum makan.

“Tante, aku mau keluar dulu sebentar.” Gue pamit buat keluar, yang sebenernya gue mau beli makanan buat Tante, sekalian buat gue juga.

15 menit kemudian..

Gue berjalan dengan pasti buat nyerahin makanan ini buat Tante Marissa yang udah laper.

BRAK.. Makanan yang gue bawa terjatuh dan berhamburan sudah saat gue melihat teriakan histeris Tante Marissa keluar ruangan dengan beberapa suster yang menggiring ranjang beroda. Setelah itu gue ga bisa liat apa-apa lagi. Mungkin mata gue udah buta karena gue ga kuat melihat kenyataan.

***

Mata gue terbuka perlahan, terasa semu bayangan bayangan yang gue liat. Beberapa detik kemudian gue sadar bahwa gue ga buta seperti yang gue kira waktu itu. Ternyata gue pingsan. Gue liat di samping gue ada Tante Marissa. Gue terbangun dan langsung memeluk Tante Marissa. Tante Marissa yang ga sadar kalau gue udah sadar langsung menghapus air matanya.

“Tan, aku mau ke ruangan Andi.” Ucap gue lemas.

“Sudahlah, kamu ga akan bisa menyusulnya. Dia terlalu jauh untuk kamu susul” jawabnya lembut.

“Maksud Tante?”

“Ayo kita pulang. Nanti akan tante ceritakan semuanya sama kamu. Tante juga akan meminta ijin pada orang tuamu agar kamu diperbolehkan menginap malam ini di rumah Tante.”

Lalu kami pun segera berkemas. Yang sebenernya gue penasaran banget dengan apa yang udah terjadi. Tapi, Tante Marissa ga mau nyeritin semuanya ke gue sekarang. Jadi mau ga mau gue bungkam.

***

“Claraaa..” Panggil Tante Marissa dari luar rumah. Gue yang lagi nonton televisi lalu berlari mendekat pada Tante Marissa.

“Sekarang, akan Tante penuhi janji tante. Tante akan menceritakan semuanya padamu. Ayo ikut tante.” Aku mengikuti langkah Tante. Lalu Tante mengajaku duduk di ayunan taman rumahnya. Ayunan yang dimana dulu gue sama Andi sering banget maen ayunan disitu dan berkejar-kejaran di taman itu.

Tante Marissa memecahkan keheningan malam itu. “Liat Clara, bintang itu bintang yang paling bersinar.” Gue melihat bintang yang ditunjuk Tante Marissa. Gue masih terdiam. “Jarak ke bintang itu pasti jauuuuh sekali.” Lanjutnya.

Gue hanya mengangguk. Sampai saat ini gue belum tau apa yang sebenrnya maksud yang dibilang sama Tante Marissa.

“Clara, kamu kangen sama Andi?”

Deg, pertanyaan itu...

“Iya tante.” Jawabku singkat sambil menahan air mataku.

“Ini” lalu Tante Marissa menyodorkan sesuatu padaku.

Clara, sebelumnya gue mau minta maaf atas kelakuan gue yang bikin lo sedih, kecewa dan bikin lo benci sama gue. tapi percaya deh, gue ngelakuin ini karena gue pikir inilah jalan satu-satunya biar lo ga terlalu kaget dengan apa yang terjadi.

oh iya, di surat ini, gue Cuma mau nyampein sesuatu aja. kalau lo ngerasa kangen sama gue caranya gampang kok. lo tinggal pergi keluar rumah, lalu pandangin langit dan cari bintang yang paling bersinar. karena itulah gue. lo boleh sesuka hati mandangin gue, karena gue rela dipandangin setiap detik sama lo Ra J

dan satu hal lagi, sesuatu yang buat gue ga mau liat air mata lo jatuh karena satu hal. pertama gue sayang sama lo dan sayang itu berubah menjadi cinta.

hidup dengan baik demi gue ya Ra. J

Andi

Gue ngelirik Tante Marissa. Tante Marissa hanya tersenyum sembari menunjuk bintang yang paling terang. “Dia disana” ucapnya singkat.

Gue meluk tante Marissa. Gue sadar sekarang, ternyata Andi ngejauhin gue bukan karena apapun, tapi karena dia terlalu sayang sama gue sampe dia ga mau liat setetes pun air mata di pipi gue.

Dear, Andi

Andi, walaupun lo udah ga ada di samping gue dan ga kan pernah bisa ngebuat gue benci lagi sama lo, tapi tetep ada rasa benci gue karena lo menjauh demi hal yang ga penting. Tapi sayang, rasa sayang gue ke lo ngalahin semua rasa benci dan kesalahan-kesalahan lo ke gue. Kini, gue yakin dan gue pastiin bahwa lo adalah Bintang Yang Paling Bersinar di hati gue.. Gumam gue dalam hati..

Diary Untuk Ayah


Hari mulai petang, awan yang tadinya cerah berubah menjadi gelap. Tak ada lagi sinar mentari di langit yang ada hanya cahaya-cahaya kecil dari bintang yang bertaburan di langit petang.

Saat itu, aku tidak merasakan ngantuk sama sekali. Akhirnya aku mantapkan kakiku melangkah ke luar rumah duduk termenung sendrian menatap bintang. Sampai pada akhirnya, aku tertuju kepada satu bintang yang cahayanya paling terang. Dan saat itu juga aku teringat kepada seseorang. Seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Kebetulan hari ini, tanggal 21 juli, tepat saat aku kehilangan seseorang yang berarti itu.

***

12 tahun lalu, aku mengalami peristiwa yang hebat, tepatnya pada tangal 21 Juli 1999. Pada tangal itu, aku dan keluarga pergi ke pernikahan salah satu keluarga kami. semua keluargaku sudah sibuk menyiapkan semuanya sehari sebelumnya. Menyiapkan baju dan gaun yang akan dipakai, makanan serta seserahan untuk calon pengantin. Aku sendiri sudah membeli baju baru untuk digunakan di pernikahan tersebut. Setelah semua siap, pagi-pagi sekali kita berangkat ke daerah Jombang, tempat saudaraku merayakan pesta pernikahannya. Aku naik mobil sama ayah, ibu, dan adik kecilku. Aku duduk di pangkuan ayahku, sedangkan adik berada digendongan ibuku, maklum adik masih usia 8 bulan. Sebenarnya kami akan naik mobil yang satunya, mobil teman ibu. Tapi karena mobilnya belum datang, aku memaksa ibu dan ayah untuk naik mobil yang sekarang sedang aku tumpangi. Di sepanjang perjalanan, ayah selalu mencetuskan lelucon-lelucon yang membuat aku tertawa. Ayah dan aku juga menyanyi lagu anak-anak seusiaku.

“naik naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali”

Tawa canda terus terdengar dariku dan ayah, sampai kemudian peristiwa itu terjadi. Sebuah bus besar mendahului mobilku dengan kencang, sementara di lajur yang berbeda ada sebuah tuck yang melaju kencang pula. Lalu bus tersebut tidak bisa mendahului mobilku dan malah menabrak mobilku sampai mobilku masuk ke sungai. Ggerrr…. Ccciiitttzz….. BBBrakkkk…. BBrakkkk…. BBBrakkkk….. duuuaazzz…… . Mobilku masuk kesungai, tapi aku dan ayahku terlempar keluar lewat jendala, dan kami masuk ke sawah di arah yang berlawanan dari sungai. Saat terlempar, aku tidak merasakan apa-apa. Aku hanya merasakan pelukan hangat seseorang dan dekapanan kuat yang mencoba untuk melindungiku. Setelah masuk ke sawah, aku terlepas dari pelukan dan dekapan penuh sayang itu. Yaahh… aku terlepas dari dekapan ayahku. Dan melihat ayahku berada di sampingku sedang tak sadarkan diri. Disitu aku bingung harus berbuat apa, sementara tidak ada satupun orang disana. Hanya aku dan ayahku yang berada di tengah sawah tersebut. Aku mencoba untuk menyadarkan ayah, menepuk-nepuk kedua bahunya sambil menangis dan berkata,

“ayah… ayah… bangun yah…”

“ bangun… tolong yah… ayah harus bangun….”

“ Yah… bangun yah…”



Aku sudah mencoba berkali-kali, tapi hasilnya tetap nihil. Ayah tidak bangun dari tidurnya. Aku menangis dan terus menangis sambil terus menyebut namanya, dan berharap ayah bisa bangun.

***



Tak lama kemudian, mobil yang lain dari keluargaku datang. Mereka semua menangis dan menyesali apa yang telah terjadi. Terdengar juga saudara sepupuku menangis kencang sambil meneriakkan namaku. Berharap tidak terjadi apa-apa denganku. Kemudian kami segera ditolong dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit aku diperiksa, dan dokter berbicara dengan tanteku tentang hasil pemeriksaanku.

“Dok bagaimana keadaan ponakan saya?”

“tidak ada yang terlalu parah bu, hanya saja tangan kanannya patah”

“astaghfirulloh, lalukan saja yang terbaik dok,,”

“pasti bu, kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan ponakan ibu”

“terima kasih dok”

“sama-sama bu, itu memang sudah jadi tugas kami”



Ya, hasil pemeriksaan dokter menyatakan kalau tangan kananku patah. Selain itu di tempat yang berbeda, ayah masih tidak sadarkan diri dan masih berada di ruang UGD. Ayah masih diperiksa keadaannya oleh dokter. Selang beberapa waktu, dokter yang tadi memeriksa ayah keluar, dan segera menginformasikan keadaan ayah kepada saudaraku.

“ bagaimana keadaannya dok?”

“maaf pak, kami sudah melakukkannya semaksimal mungkin” , dokter tersebut berkata dengan wajah pasrah.

“maksud dokter?”

“korban sudah tidak bisa ditolong lagi”

“innalillahi wainnailaihi rojiun”

Semua anggota keluargaku tidak percaya, kalau ayahku pergi secepat itu. Padahal ayah masih harus menjaga aku dan adikku yang masih kecil.

***



Di ruang anak ibu masih menggendong dan menyusui adik. Ibu tidak mengalami luka yang cukup serius. Ibu hanya luka memar di bagian wajah karena terbentur pintu mobil. Sedangkan adikku tidak luka sedikitpun. Ia selamat dalam keadaan baik seperti tidak ikut dalam peristiwa itu. Setelah cukup lama menyusui adik, ibu ingin ke ruangan ayah. Tapi dokter terus menghalangi ibu.

“ibu mau kemana?”

“saya mau melihat suami saya bentar dok,”

“jangan dulu bu, ibu harus menjaga bayi ibu dulu disini”

“tapi dok, saya ingin melihat suami saya sebentar, sebentar saja dok…”

“jangan bu, disusui dulu aja anaknya”

Melihat dokter yang seakan-akan menghalangi langkahnya untuk menemui ayah, ibu semakin cemas. Dari tadi ibu memang sudah mendapat firasat yang buruk. Takut terjadi apa-apa dengan ayah. Setelah dokter tersebut pergi memeriksa pasien lain, ibu langsung memantapkan langkahnya ke ruangan tempat ayah diperiksa tadi. Sesampainya di depan ruangan tersebut, ibu mendapati saudara- saudaranya menangis mengisakkan air mata. Ibu langsung menangis dan bertanya ke saudaranya.

“ada apa?? Mengapa kalian semua menangis? Mana suami saya? Suami saya baik-baik saja kan??”

“tenang… tenang…. Duduk dulu”

“enggak, saya mau lihat suami saya”

“suami kamu sudah tiba ajalnya”

“nggak…. Nggak mungkin…. Itu nggak mungkin terjadi….”

“yang sabar ya, ikhlas… kasihan suamimu kalau kamu seperti ini”

Semua orang berusaha menenangkan ibu. Ibu terus meneteskan air mata, seakan tidak percaya atas kepergian ayah yang terlalu singkat. Untunglah keluargaku berhasil menenangkan ibu.

***



Setelah semua administrasi beres, aku pulang bersama ibu dan adik. Aku sempat bertanya kepada ibu.

“bu, ayah mana? Kok nggak ikut pulang?”

“ayah masih harus di rumah sakit nak, ayah masih sakit”

“tapi aku ingin sama ayah bu…”

“ besok kalau ayah sembuh, ayah pasti pulang”

“benar ya, bu….”

“iya nak…”

Ya, saat itu semua orang memang merahasiakan kepergian ayah dariku. Takut kalau aku tidak bisa menerima kepergian ayah. Semua keluargaku memang tau, aku dan ayah seperti soulmate, dimana ada ayah pasti aku juga ada bersamanya. Aku memang anak kesayangan ayah. Ayah selalu mengutamakan kebahagiaanku. Ibu aja pernah dimarahin oleh ayah, karena ibu mencubit aku. Tapi bukan salah ibu juga sih, aku memang bandel.hehehe… .

Setelah sampai di depan rumah, aku mendapati rumahku sesak dari gerumelan orang. Tetanggaku berkumpul di rumah. Memangnya ada apa? Aku baertanya dalam hati. Tapi kemudian, aku dibawa ke rumah saudaraku,yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Ternyata aku memang sengaja disembunyikan dari ayah. Tidak lama setelah aku pergi, mobil ambulance datang mengantarkan ayah ke rumah. Semua tetanggaku sibuk, ayah langsung diangkat ke dalam, dimandikan, dikafani, dan dikuburkan. Setelah ayah dikuburkan, barulah aku dibawa pulang kerumah.

***



Hari berganti hari, aku menjalani hidupku seperti anak kecil pada umumnya. Bermain, tertawa, bercanda. Smpai suatu hari aku bertanya kepada ibu.

“bu, ayah kapan pulang? Aku kangen sama ayah bu,”

“ayah masih sakit nak, ayah masih harus di rumah sakit”

“tapi kapan ayah pulang bu?”

“kalau ayah sudah saembuh, ayah pasti langsung pulang”



Saat itu aku memang percaya dengan apa yang ibu katakan. Maklum, aku masih kecil, belum tahu mana yang bohong mana yang jujur. Aku menganggap semua yang dikatakan ibu itu memang suatu kejujuran.

Ibu mempunyai inisiatif lain. Supaya aku gag terus-terusan bertanya tentang keberadaan ayah, aku dimasukkan ibu ke taman kanak-kanak (TK), ya walaupun usiaku masih 3,5 tahun. Ibu berharap setelah aku di TK, aku bisa berbaur dengan teman-teman yang lain dan bisa lupa tentang ayah. Memang setelah berada di TK, aku selalu mengisi hari-hariku dengan kesibukan di sana. Bermain, bergurau bersama teman-temanku. Walaupun terkadang ada temanku yang meledek aku, karena mereka menganggap aku tidak punya ayah.

“ hahaha…. Kamu nggak punya ayah ya?”

“siapa bilang, ayah aku masih di rumah sakit, ayah masih sakit”

“bohong, kamu nggak punya ayah”

“aku punya ayah,”

“mana buktinya? Ayah kamu kok nggak pulang?”

“ayah pulang kalau ayah sudah sembuh”

“bohong…. Bohong…. Kamu nggak punya yah”

“ngak punya ayah…. Nggak punya ayah….”



Celotehan temanku itu sering kali membuat aku menagis dan langsung pulang. Jarak rumah dengan TK memang cukup dekat. Sesampainya di rumah, aku langsung bercerita kepada ibu. Aku memaksa ibu untuk menyuruh ayah pulang. Tapi ibu tidak menjawab, dan hanya menangis.

***



4 tahun kemudian, aku duduk di bangku SD kelas 2. Hari ini adalah hari terakhir aku bebas makan pagi, siang, sore, malam. Karena besok aku harus puasa. Ya, besok memasuki hari pertama bulan ramadhan. Sore nanti ibu mengajakku ke makam, katanya mau ngasih bunga-bunga disana. Sore tiba, aku dan ibu pergi ke makam, adik tidak ikut karena masih terlalu kecil. Sesampainya di makam, aku dan ibu berhenti di sebuah nisan bertuliskan nama dan tanggal orang tersebut meninggal. HERI SUPRAPTIONO, 21 JULI 1999, aku membaca tulisan di nisan itu. Saat itu aku memang sudah bisa membaca, kan udah kelas 2 SD. Setelah membaca tulisan itu, aku tidak asing dengan namanya. Aku seakan kenal dan tahu dekat tentang nama itu. Kemudian aku sadar bahwa itu adalah nama ayah. Aku bertanya hal itu kepada ibu tapi ibu tidak menjawab.

Kemudian kami pulang, setelah tiba di rumah, aku menanyakan hal itu lagi kepada ibu.

“buk, kenapa di makam tadi ada nama ayah?”, “makam kan tempat orang yang sudah meninggal?”

“iya nak, itu memang nama ayah”

“kenapa nama ayah ada disana?, ayahkan belum meninggal bu?”

“ayah kamu memang sudah meningla nak,”

“tapi kata ibu, ayah masih di rumah sakit?”

“ayah sudah meninggal nak”

Mendengar hal itu , aku seakan tidak percaya. Aku menangis dan marah sama ibu, karena ibu tidak jujur sama aku kalau ayah sudah meningal. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai bisa menerima itu semua. Mungkin ibu melakukan itu demi kebaikanku. Ibu menganggap dulu aku tidak akan siap dengan semuanya dan sekaranglah waktu yang ibu anggap aku siap mendengarkan semuanya.

***



Setelah kejadian itu, setiap tangal 21 Juli, aku selalu keluar menatap bintang. Aku menganggap bintang itu ayah, dan ayah akan selalu memancarkan cahayanya untukku walaupun ayah tidak lagi bersamaku. Tapi perasaan kangen dan rindu selalu ada dibenakku. Untuk mengungkapkan itu semua, biasanya aku mengungkapkan semua perasaanku itu di diary untuk ayah.

Diary untuk ayah:

“ ayah, sudah 12 tahun ayah pergi ninggalin aku. Mungkin ayah pergi karena kesalahanku. Seandainya dulu ayah tidak mendekap dan melindungi aku, mungkin ayah sekarang masih bisa hidup, walaupun aku yang harus pergi karena tidak terlindungi oleh ayah. Ayah tau ngak, kalau selama ini aku kannnggggeeeennnn banget sama ayah. Yah, sudah ribuan bahkan jutaan air mata ini menetes menangisi kepergian ayah, karena jujur yah, aku belum rela kalau ayah pergi meninggalakanku secepat ini. Ayah pergi ninggalian aku saat akau masih 3,5 tahun.ayah tahu kan, umur-umur segitu, seorang anak sangat membutuhan kasih sayang dari orang tuanya yang lebih. Tapi aku, aku tidak bisa mendapatka itu semua, walaupun masih ada ibu, ibu masih harus tetap menjaga adik. Adik butuh kasih saying lebih dari ibu daripada aku.

Ayah, sekarang aku sudah remaja. Aku ingi hidup normal seperti remaja lainnya. Saat remaja lain berbahagia dengan ayahnya. Pernah yah suatu hari, di kelas teman-teman bercerita tentang ayahnya. Ayahnya yang pernah mebelikannya ini itu, ayahnya yang pernah memeberi kado saat ultahnya, ayahnya yang selalu mencium pipinya saat akan pergi sekolah, ayahnya yang selalu mengajak jalan-jalan setiap hari minggu, ayahnya ynag pinter memasak, ayahnya yang pinter melawak, atau apapun. Mereka semua berlomba menceritakan kebaikan ayahnya masing-masing. Tapi aku?? Aku hanya diam membisu, aku bingung apa yang harus aku ceritakan ke mereka tentang ayah. Aku ingin bisa manceritakan ayah ke mereka. Aku ingin bilang ke mereka bahwa hanya ayahku, ayah yang terbaik. Tapi aku nggak bisa yah, karena ayah udah tiada. Ayah, saat-saat seperti itu, aku merasakan sakit yang begitu besar, luka yang begitu perih, aku merasa hidupku sudah tidak berarti lagi tanpa ayah disini. Aku ingin ayah kembali, disini, disampingku, dan nggak akan pergi lagi.

Terkadang aku bertanya pada Tuhan, mengapa dulu aku nggak ikut pergi sama ayah? Mengapa ayah pergi sendiri? Apa gunanya aku disini tanpa kehadiran ayah?. Tapi saat itu juga, aku sadar. Aku sadar kalau Tuhan masih sayang sama aku. Tuhan memberi kesempatan aku untuk menikmati indahnya dunia. Walaupun keindahan itu maya, karena hanya ayahlah satu-satunya sumber keindahanku. Dan aku berfikir, mungkin ini cobaan untukku, cobaan yang diberikan oleh Tuhan. Karena Tuhan tahu aku kuat dan tegar menjalani cobaan ini.

Dan yang terakhir untuk ayah, sebelum aku menghentikan goresan pena di buku diary ini, ayah, terima kasih selama ayah hidup, ayah sudah buat aku bahagia, ayah sudah buat aku tersenyum dan tertawa, terima kasih buat waktunya, terima kasih buat semuanya. Dan asal ayah tahu aku nggak akan pernah lupa tentang kenangan bersama ayah. Aku selalu sayang sama ayah, selamanya…… ”

Kini diary untuk ayah akan aku simpan dan akan slalu menjadi semangat serta motivasiku untuk menjalani kehidupakanku selanjutnya. Diary ini adalah kekuatan hidupku.

Rabu, 19 September 2012

Aku Telah Pergi, Nina!

Aku hanyalah manusia kerdil yang di pandang orang sebelah mata, aku hanyalah      manusia nista yang di caci maki orang di luar sana. Aku bagai sampah yang di        
ludahi, di tindas, lalu di lenyapkan. Kala rintik hujan mulai turun kaki ku membaur darah di mana-mana, serpihan beling menancap pedih di dasaran kaki hingga terkadang tak ku lihat lagi darah segar yang bermuncratan dari kaki ku. Apa sebab? Karna darah ku telah bersatu dengan tanah yang ikut menjadi kawan pilu di setiap langkah ku. Aku ini hanya lah seorang pemulung kecil yang terpaksa terjun ke hamparan tanah dengan kaki telanjang dan baju setia yang selalu melekat di tubuhku.  Tak ada ibu apa lagi bapak. Aku bagai butiran telur yang di biarkan menetas sendiri, tak ada kehangatan yang menyelimuti, hanya setitik cahaya yang mampu menerangi jalan hingga aku seperti ini.
       Tapi aku masih bisa tersenyum manis di atas kepahitan yang mendera hidupku. Sebab aku tak sendiri, Tuhan memberi ku teman untuk menyusuri petualangan hidup yang sesempit ini. Nina mampu membuatku tersenyum meski sengaja luka ku harus terselubung. Ya, dia adik ku yang ikut merangrang duka bersamaku. Usia nya masih enam tahun dan aku empat tahun lebih tua dari nya, kami sepasang kakak adik yang terlantar dari orang tua, ibu ku telah pergi sejak iya memperkenalkan Nina ke dunia. Sedang bapak ku. Ah aku tak peduli? Karna iya pun tak peduli dengan aku dan Nina. Setelah empat tahun ibu pergi meninggalkan kami, bapak telah menemukan penggantinya. Secepat itu memang bapak melenyapkan ibu dari memory otak nya. Mungkin dia layak di sebut sebagai orang yang tak memiliki otak. Sebab kala adik ku memasuki umur empat tahun dengan seenak hasrat nya iya meninggalkan kami. Dan bayangkan, kala itu usia ku masih delapan tahun, di mana usia seperti itulah aku membutuhkan kehadiran sosok ayah. Aku memang tak menuntut kehadiran ibu kala itu, karna aku menyadari bahwa ibu tak akan mungkin kembali bersama kami.
    Aku melihat ibu pergi saat detik-detik kelahiran adikku, dan itu nyaris membuat hidup ku pupus. Meskipun usiaku sangat belia tapi aku merasakan kedukaan itu. Dan saat orang-orang mengangkat jasad ibu hingga memasukan nya ke tanah liat yang terkesan berbentuk balok itu, aku hanya bisa melihat nya dari atas dengan sesekali aku menitihkan air mata. Kecil-kecil saja aku telah di perlihatkan dengan kematian. Sungguh ironi memang! Kendati begitu aku tak pernah mengeluh pada kehidupan, aku jalani sekuat ragaku, sepanjang hembusan nafas ku. Hingga akhirnya aku membesarkan nina dengan kedua tangan ku sendiri, meski aku terlahir sebagai seorang lelaki tapi aku mengerti bagaimana cara mengurus adikku. Dengan pekerjaan ku yang hanya seorang pemulung, ku rasa aku mampu memberi sebungkus nasi untuk Nina. Meski terkadang aku rela tak makan karna nya. Aku menyanyangi Nina melebihi segala nya. Dia adik satu-satu nya yang aku punya hingga kini. Dan kami hidup di sebuah gubuk kecil di pinggiran jalan. Hanya gubuk itu satu-satu nya tempat yang dapat kami tumpangi, meski terkesan tak layak untuk di tinggali, tapi aku rasa itu sangat layak untuk aku dan Nina hidup untuk masa ke depan nya.
     Kala awan gelap turun lebih cepat dan langit jingga tak tampak lagi menyinari, hingga matahari kembali beradu di ufuk barat. Aku masih berjalan diiringi kegelapan, aku melangkah menyusuri sampah demi sampah yang menggunung. Mencari sesuap nasi yang akan ku bekali untuk adikku, Nina. Meski kini aku tak bersama Nina. Iya sengaja ku tinggalkan sendiri di rumah tanpa iya harus mencariku, karna dari sejak iya berumur empat tahun itu aku telah mengajarinya kemandirian tanpa bergatung pada orang lain.  Mungkin kini iya hanya sedang berbaring menunggu kedatangan ku. Aku tau kalau tindakan aku ini tak sepantasnya ku lakukan pada nya. Tapi apa lah daya, aku ini tak memiliki apa-apa, tak mengerti apa-apa, kecuali hanya mencari tumpukan sampah.   Aku pun berjanji pada nya akan pulang jika aku telah membelikan makanan untuk nya. Oleh karna itu, aku masih menyusuri jalan dengan kedua kaki ku yang telanjang tanpa alas. Dan aku Singgah dari tempat satu ke tempat lain, mengharap mendapatkan tumpukan sampah yang bernilai guna.
       Tak lama aku menyusuri jalan yang tajam ini, keranjang sampah ku terasa berat. Ku rasa ini sudah cukup untuk membelikan sebungkus nasi untuk Nina. Dengan hati sedikit lega, ku langkahkan kaki  untuk menukarkan sampah itu agar menjadi lembaran uang. Ya, aku melihat di seberang jalan ada pasar yang menerima sampah-sampah bekas seperti ini. Segera ku susuri jalan dengan hati yang senang. Namun aku merasakan gelagat lain, jantung ku tiba-tiba berdenyut kencang, kaki ku mendadak kaku, dan tubuhku terasa sangat dingin. Aku pun tak meneruskan langkah, aku berhenti sejenak di pinggiran jalan. Tapi mata ku tak tahan untuk segera menyebrangi jalan itu, aku terbayang sosok adikku yang menunggu kelaparan, hingga akhir nya  ku turuti kehendak mataku itu. Aku mulai menggerakan kaki ke ruas jalan. Dan apa yang ku dapat! Tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna biru metalik melaju dengan kencang nya hingga mampu membuat mataku menjadi suram. Aku seperti berada di depan cahaya yang teramat terang. Kaki ku kini menjadi mengeras bagai es di kutub utara, aku tak bisa bergerak, mata ku samar menatap, tubuhku mendadak lemas, dan aku terhempas. Semua orang berbondong-bondong menghampiri jasad ku. Aku melihat banyak mata memandang duka ke arah ku. Aku tak mengerti? Aku seperti telah terbang, kaki ku yang tadi nya bersentuh tanah kini tak ku rasa lagi. Badan ku terasa ringan. Aku pun mengawang, terbang ke atas langit. Pertanda apakah ini? Dimanakah aku sekarang? Dan sekelebat cahaya putih menghampiri ku. Wajah nya terlalu bersih berseri, iya mengenakan baju putih suci. Dia berkata padaku :
Sekarang sudah waktunya kamu ikut bersamaku?
Ikut bersamamu?
Iya.
Memang kita mau kemana?
Kita akan menuju hidup yang abadi?
Tidak! aku tak ingin ikut dengan mu, masih ada seorang adik yang sangat membutuhkanku, aku tak akan mungkin ikut dengan mu.
Tapi ini sudah saat nya, kamu bukan lagi manusia seutuh nya. Kamu adalah roh yang keluar dari jasad mu itu? Kata nya sembari menunjuk ragaku yang terbaring bersimbah darah di tengah jalanan.
Apa? Jadi aku telah mati?
Ya.
Tapi, berilah aku waktu untuk kembali menemui adik ku. Dia pasti sedang menungguku.
Baiklah, tapi waktumu hanya sebentar.
      Aku pun segera berlari meski kaki ku tak menyentuh tanah, bisa di bilang aku seperti terbang. Sesampai aku di gubuk tua itu. Aku melihat sepasang bola mata yang sangat redup terpancar dari raut adikku. Aku coba mendekati nya hingga hasrta ku ingin sekali mendekap nya. Namun sia, tangan ku menembus badannya. Aku sedih, hingga aku menangis di hadapan nya. “Maafkan, aku dik! Aku tak bisa lagi menemanimu seperti dulu, Aku tak bisa lagi membelikanmu sebengkus nasi, kini dunia kita telah berbeda . Tapi aku janji akan selalu menjaga mu dari atas sana.” Aku berucap sembari minitihkan air mata. Aku merasa kehilangan sosok nya. Dan ku lihat adik ku seperti kelaparan iya meremas perut nya dan berbaring sampai akhir nya aku melihat jasad nya untuk yang terakhir kali. Dan aku kini telah pergi jauh mengangkasa.

Harusnya Aku, Bukan Dia

Harusnya Aku, Bukan Dia

Teringat akan masalalu yang kita lewati
Terasa indah, sejuk meresap didalam sanubari
Walau duka sempat singgah, hadapi bersama
Bahagia slalu dihatiku
Kini hilanglah sudah kisah, tinggallah kenangan
Saat dia datang, menghampirimu dengan segala janji
Berikan sudah semua atas nama cinta
Hapuskan cerita kita

#Ingatkah kamu by asap band

Setiap kali aku mendengar lagu itu, entah kenapa aku selalu teringat Saka. Yach, cowok itu adalah sahabat terbaikku semenjak aku duduk di bangku SMA. Terkadang banyak sekali teman-teman yang salah mengartikan hubungan kita, karena dimata teman-temanku, Tiwi dan Saka adalah dua sejoli yang saling mencintai dan saling menyayangi. Bagaimana tidak, hubungan persahabatan kita sering diwarnai kisah-kisah romantis yang spontan dan tidak sengaja sering kita pertontonkan didepan teman-teman sekelas.

Saat itu Rizal temen sekalasku, menjahiliku dengan memasukkan kucing  di tas kesayanganku, aku nich benci banget sama kucing. Eh malah tuh anak masukin kucing di tas kesayanganku. Tanpa pikir panjang, aku langsung menjerit dan melempar tasku jauh-jauh dariku. “waaaa… siapa yang naruh tuh kucing di tasku..?” gayaku sambil bertolak pinggang didepan kelas. “hahaha… Tiwi Tiwi, sama kucing aja takut, malu-maluin banget sih..!” jawab Rizal dengan mata jailnya. “ouw, berarti kamu yang njailin aku Zal” akupun langsung mnghampiri bangkunya “keluarin tuh kucing atau aku bakal laporin kamu sama anggota pelindung kucing. Biar kamu ditangkep tyuz dipenjara bareng kucing-kucing ganas yang udah pernah makan manusia..!” “hahaha… mana ada tuh kucing pemakan manusia. kebanyakan nonton film kartun nech.” “Rizal, aku gag mau tau yah. Sekarang keluarin tuh kucing dari tas kesayanganku. Cepet..!” “males banget, kluarin aja sendiri.” Gayanya

 sok cuek. Tak lama, Saka masuk kelas. “ada apa sih Wi..? jeritan kamu kedenger sampek kantin tuh, keras baget sih” “agh lebay kamu Ka, kantin sama kelas kita nih kan jaraknya jauh banget.” Jawabku dengan ekspresi sama sekali gag mood buat diajak bercanda. “kamu kenapa sih..?” “neh si Rizal, dia masukin kucing di tasku. Aku kan geli banget sama tuh kucing. Disuruh buat ngluarin tuh kucing malah gag mau. Njengkelin banget kan..!” gerutuku. Rizal yang saat itu ada di depanku malah senyum-senyum kayak orang gag punya dosa. “Apa`an sih kamu Zal, udah tau Tiwi benci banget yang namanya kucing. Pake acara njahilin dia sama kucing segala. Sekarang kluarin tuh kucing, atau kamu yang bakal aku buat kluar dari sini..!” ancam Saka dengan sok jantannya. “ya`elah Ka Ka, biasa aja kale`. Toh aku Cuma becanda.” “iya tapi becandamu kelewatan tau`…! Cepet kluarin tuh kucing..!” “iya iya…” jawab Rizal yang pada akhirnya menyerah dengan

 keteguhannya, dan saat itu aku yang masih memasang ekspresi ngambek langsung ditarik keluar kelas oleh Saka dengan menggandeng tanganku. Setelah diluar kelas “udah gag usah ngambek lagi, tambah jelek tau` kalau kamu masang muka kayak gitu…!” “masih kesel tau` sama si Rizal” “yaudah, Rizal udah ngluarin tuh kucing dari tasmu kan.” “tapi masih kesel Saka..” “Tiwi, Rizal kan Cuma becanda. Maafin dia yach..!” rayunya dengan nada sok manis. “Tiwi, senyum dong..! hmz..gag ada kaca yah..? liat tuh mukamu kalo pas lagi nagmbek gini jadi keliatan tambah jelek. Ayow senyum..!” dan akupun mengembangkan senyumku dengan terpaksa. “ih, senyumnya maksa gitu. Jadi tambah kayak badut tuch” akupun akhirnya mulai sebel plus sedikit geli mendengar guyonannya “apa`an sich kamu…!” responku sambil memukul lengan Saka secara perlahan dengan senyumanku yang mulai mengembang pastinya. “nah, kalo` senyum gini kan jeleknya jadi gag keliatan

 banget” “maksudnya, aku masih tetep jelek kalo udah senyum kayak gini.” “ea, itu kan udah ciptaan dari Tuhan Wi, jadi aku gag mungkin bisa bo`onglah. Beda sama aku, Saka yang udah dari sananya ganteng, meski dibagaimana`in juga tetep ganteng. hehehe” godanya kali ini. “ich, narsis banget sih kamu” jawabku sok cuek “halah, tinggal ngaku iya ajah susah banget sih. Ayow jawab iya dong..!” “gag, Saka jelek Saka jelek.. wlek…!” sambil menjulurkan lidahku dan aku berlari memasuki kelas, Sakapun juga mengikutiku dari belakang. Sesampai dikelas “Wi, akui dong kalo aku ganteng…” “gag agh, Saka tuh sekali jelek tetep jelek. Udah jelek narsis lagi” “Wi, apa susahnya sih bilang kalo aku itu ganteng..?”sambil memasang wajah dan nada suara yang sok melas “ya susahlah, orang kamu jelek kog” “agh, Tiwi gag asik. Ngambek deh ngambek” sekarang dia memasang ekspresi yang sok ngambek dengan bibir manyunnya “terserah lo…!”

 responku yang sekali lagi dengan menjulurkan lidahku. Tak sadar, ternyata saat kita berdua melakukan guyonan itu semua mata teman-teman sekelas tertuju pada kita berdua. “prasaan baru lima menit yang lalu si Tiwi ngambek tingkat berat dech. Kog sekarang jadi aneh gini sih.” Cletuk Sinta, teman sekelasku “yaelah, kayak gag tau mereka aja sih kamu Sin. Mereka kan udah ada udang dibalik rempeyek tuh” cletuk Rizal mulai ngajak perang lagi “Eh, apa`an si kamu Zal, prasaan dari tadi kayaknya udah mau ngajak ribut” komentarku kini. “udahlah Tiwi sayang. Biarin aja, mereka tuh syirik sama kita.” Nada Saka dengan sok lembutnya yang seakan-akan saat itu aku memang  -sesuatu- untuknya. “norak agh” “jiaah, kampungan lo” “waduh waduh, pusing dah” kini satu per satu teman-teman sekelasku mulai merespon ucapan Saka. Hmz, memang kampungan sih. Tapi bisa dibilang –sesuatu dech- hehehe.

Saka memang orang yang paling bisa ngerti`in aku dibanding sama temen-temenku yang lain. Bahkan feelnya padaku selalu tepat sasaran. Suatu hari selepas pulang sekolah aku berjalan sendiri melewati kebun yang tak ter-urus keberadaannya, dipertengahan jalan ternyata aku dihadang oleh 2 preman yang tiba-tiba menodongku. “heh. Cepet kasih duit atau apapun barang berharga lo ke gue..!” bentak salah satu preman itu dengan menodongkan pisau siletnya ke arahku, sedang yang satunya memastikan kondisi disekitar kejadian. “e…e… bang…maaf, aku gag ada uang buat dikasih ke abang” jawabku dengan nada gugup karna ketakutan “lo kira gue gag tau kalo anak-anak yang sekolah di tempat lo itu anak-anak orang kaya. Ahg kelamaan lo” preman itupun langsung merebut tasku yang saat itu berusaha dengan sangat susah payah aku pegang sangat erat, dan langsung mengobrak-abrik isi tasku. Aku yang saat itu memang diposisi terjepit dan ketakutan, gag bisa melawan para

 preman itu, aku hanya bisa diam, takut, dan berdo`a berharap bala bantuan datang menghampiriku. Dan syukur ternyata Saka datang buat aku “woi, jangan beraninya sama cewek aja. Lagian percuma aja ngobrak-abrik tas itu sampek jelekpun kalian gag bakal nemuin barang berharga disana..!” teriaknya dengan lagak sok nantang para preman-preman itu. “siapa lo..? udah lo minggir sana, anak ingusan kayak lo sama sekali gag pantang buat nantang kita.” Bentak preman itu pada Saka “maaf ya bang, tolong balikin tas itu sama pemiliknya. Atau aku bakal ngambil tas itu secara paksa dari tangan abang..!” kini Saka terlihat begitu serius dengan ucapannya “lo kira gue takut apa sama lo..! sini maju lo…!” dan preman itupun menantang Saka untuk mengajaknya beradu kekuatan, hmz untung si Saka itu anggota ekskul bela diri, jadi dia dengan beraninya melawan dua preman tersebut dengan jurus-jurus bela dirinya, sedang aku yang melihat kejadian itu hanya bisa

 diam, syok, seakan aku merasa ini mimpi apa bukan sih…? Kog serem amat adegan berantemnya, jadi kayak sinetron-sinetron. Eh, lebih parah ding. Dan Saat itu aku benar-benar was was melihat Saka melawan dua preman tersebut, dan prasaan itu semakin bertambah parah karna salah satu dari preman tersebut membawa pisau silet yang tadi sempat digunakannya untuk menodongku. Beruntung tak lama sejak kejadian itu berlangsung, datang segerombolan teman-teman sekolahku dan sejumlah warga sekitar yang membantu Saka dan akhirnya bisa melumpuhkan para preman jalanan itu. “kamu gag papa Wi..?” Tanya Saka dengan penuh kecemasan, saat itu aku memang benar-benar merasa ketakutan hingga spontan aku langsung memeluk Saka dan menangis di dadanya “aku takut Ka” “udah-udah, premannya udah ketangkep kog. tuh preman bakal langsung dibawa ke kantor polisi kog. Jadi kamu tenang ya Wi.” Ucapnya sambil mengelus punggungku yang memang saat itu aku masih memeluk erat

 tubuh Saka. “udah ah, gag usah nangis gitu, jelek tau`..!” sambungnya sambil mengusap air mataku yang masih deras mengalir di pipiku “sekarang kita pulang, biar aku yang nganter kamu nyampek rumah” “hmz, makasih ea Ka” kini rasa takut itu berangsur mulai menghilang, dan akupun melepas pelukanku “iya, makanya lain kali kudu lebih hati-hati. Gag usah pake acara sok berani jalan sendiri ditempat sepi.” “iya deh iya, maaf. Janji deh gag bakal ngulangin lagi. Udah trauma ini” “ea jangan trauma juga Wi, ntar malah jadi aku yang repot kudu nganter kamu pulang pergi tiap hari gara-gara kamu trauma” gayanya mulai meledek “ya gag juga lah Ka, udah deh gag usah becanda, masih takut nih.” “iya iya, maaf. Yaudah yuk pulang..!” Sakapun menggandeng tanganku, sekali lagi adegan itu dilihat oleh beberapa teman-temanku yang berada ditempat kejadian perkara.

Dan masih banyak lagi kejadian-kejadian improv romantis  lainnya yang meyakinkan teman-temanku untuk berdalil “Tiwi dan Saka itu dua sejoli gag sih..?.”  dan selalu kami dengarn serempak menjawab “menurut loe..?” dan membiarkan teman-teman sekelas berdecak heran melihat tingkah laku kita berdua.

Tapi itu hanya cerita lalu, saat Niken anak baru disekolah kita datang. Sebelum Niken menjadi satu kelas bersama aku dan Saka. Dan sebelum Niken perlahan merebut perhatianku terhadap Saka. Niken memang anak yang baik, pinter dan yang lebih mengagumkan lagi dia termasuk finalis gadis sampul dari salah satu majalah terkenal di Jakarta, jadi tak heran Niken selalu terlihat cantik dimanapun dan bagaimanapun kondisinya.

Hingga Saka perlahan meniggalkanku demi menemani hari-hari Niken yang lebih berwarna. Dan saat itu pula aku merasakan Saka tidak menjadi sahabatku lagi, untuk lebih tepatnya cintaku yang selama ini terpendam yang tak berani aku tuk mengutarakannya kini telah meninggalkanku. Harus ku akui, kini aku mencintai Saka. Namun apa yang tengah aku rasakan saat ini, yang terjadi adalah keberuntungan sedang tak berpihak kepadaku, saat ku tahu ternyata Saka menyimpan asa besar yang terpendam untuk bisa memiliki Niken sang gadis cantik itu. Hingga pada akhirnya, Saka bisa mewujudkan keinginannya itu untuk bisa memiliki Niken, yah. Mereka jadian.
Sedang aku, hanya bisa terpuruk meratapi penyesalanku akan rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan ini. Hingga kini aku berusaha untuk melupakan cinta, rindu dan rasa sayangku terhadap Saka. Karena aku hanya bisa menjadi sebatas sahabatnya yang pernah hadir dalam kehidupan masa SMAnya.

Saat Cinta tlah pergi

Cerpen Cinta 2012 : Saat Cinta Tlah Terbagi


Nama ku chindy….aku remaja ingusan 19 tahun yang udah ngalamin cobaan2 yang aku rasa berat….singkat cerita nih,ayah aku tu seorang pengusaha sangkar burung yang sukses banget tapi di awal tahun 2006 beliau bangkrut,di khianatin sama teman kerjanya.MIRIS!!! setelah itu,beliau mencoba bangkit dari keterpurukannya dan mencoba tes buat jadi karyawan swasta.dan ternyata lolos.ayahku mulai bekerja menjadi kryawan sebuah kantor swasta dengan gaji yang lumayan banyak lah cukup buat hidup sehari2.tapi….setelah beliau bekerja di sana beliau jadi terlibat perselingkuhan,aku berkata begini karena aku menyaksikannya 

sendiri.singkat cerita juga ibu aku gak terima di perlakukan seperti itu,dan naas nya ibu ku malah membalas dengan perselingkuhan pula.beliau mulai berani jalan dengan teman laki2nya..bahkan aku pernah dengar dia masuk hotel dengan salah satu teman laki2nya.bisa di bayangin betapa hancurnya hati aku??sakitt banget kalo aku gak punya iman mungkin aku udah melakukan hal2 yang menyesatkan.tapi bersyukur aku masih bisa mengontrol diriku.intinya keluarga aku RUSAKKK 

Saat aku mengalami keterpurukan ku yang luar biasa ini seorang laki2 datang menawarkan kasihnya padaku,namanya vincent usianya 2 tahun di atasku.dia begitu sabar terhadapku….dan juga terhadap keluargaku.Kami mulai menjalin hubungan 1 oktober 2009 jam 10:41…aku sangat mengingatnya.betapa bahagianya aku hari itu.Hari berganti hari,tahun berganti tahun tidak terasa hub kami sudah 2 tahun…banyak sekali ujian bagi hubungan kami ini.tapi semua itu mampu kami lewati karna besarya cinta kami.tapi tidak untuk masalah yang kali ini 

Yaaa…. Orang ke-3…sejak vincent pindah tempat kerja dia mulai berbeda.ada seorang cewek yang aku tahu namanya Tisya.awalnya Tisya yang ngejar2 vincent.setahu aku vincent ituorangnya gak mudah tertarik sama cewek tapi ternyata aku salah.suatu ketika aku membuka hape nya vincent ada beberapa sms dari Tisya
Tisya mesagge::Sayang abis ini aku melucur ke kafe tunggu aku ya sayang.lalu aku buka balasan sms vincent ke tisya aku berharap balasan itu tidak ada.tapi ternyata ada.aku buka pelan2… 

Vincent mesagge::Iya sayyanggkuuu aku tunggu ya..muach……Ya Tuhan kaget banget aku.aku tanya pelan2 sama vincent “sayang ini maksudnya apa??kok kamu manggilnya sayang2 sih ke tisya”aku lihat sorot mata gugup dari mata vincent.tapi dia mencoba menjawab setenang mungkin.”ya ampun kok bisa sih padahal aku gak bales sms dia lho sayang..ohh ini pasti ulahnya si Dikko,dia emang usil banget sayang suka baca2 sms aku gitu.beneran deh yank bukan aku yang balesin masa kamu gak percaya sih sama aku?”terpaksa aku mempercayainya.tapi tidak 100%..singkat cerita aku mulai menyelidiki hubungan mereka.dan ternyata memang benar mereka ada hubungan!! 

suatu ketika ada seorang cewe yang ngasih tau aku.kalo vincent sering ngasih cokelat ke tisya kalau tisya marah.padahal kalau aku yang marah vincent malah balik marah ke aku.merasa tidak adil,kenapa harus terjadi yang seperti ini apa kurangnya aku ke vincent.aku gak pernah nuntut macem2 sama vincent tapi kenapa dia bisa tega sama aku.lalu aku mulai add facebook teman2 kerja vincent.aku mau telusuri foto2 mereka dan ternyata banyak sekali foto mesra mereka,di kafe,mall,bahkan di pantai pun ada.bisa kalian bayangin kan gimana rasanya. 

Sabtu sore sepulang kerja aku ajak vincent ke taman buat bicaraain ini baik2.dan akhirnya vincent mengaku kalau memang dia menyayangi tisya,dia cinta sama tisya,dan gak bisa untuk lebih miilih salah satu antara aku/tisya.Vincent nangis dan memohon untuk di beri kesempatan.dia minta waktu untuk dia bisa melupakan Tisya.aku menurut saja karna aku sangat mencintai Vincent.Setiap malam aku berdoa buat hubungan ini.aku minta yang terbaik untuk hubungan aku dan Vincent.Tapi Tuhan menjawab lain.semakin hari vincent malah semakin berani dengan hubungannya bersama Tisya….Aku sering denger dari teman2ku kalau mereka bertemu vincent dan tisya di tempat2 umum berduaan.itu udah menunjukkan betapa beraninya mereka. 

tapi aku juga tidak tahu harus berbuat apa.Vincent tidak mau melepasku tapi aku tersiksa dengan keadaan seperti ini.lalu aku merenungi kejadian ini.semua kembali ke aku.Ayah dan ibuku saling mengkhianati dan berselingkuh…akhirnya anak yang jadi korban.mungkin seperti inilah perasaan suami/istri selingkuhan ayah dan ibuku.aku baru masa pacaran bagaimana dengan mereka yang sudah menikah dan mempunyai anak.betapa sakitnya hati mereka.kalau sudah seperti ini siapa yang harus di salahkan??Tidak ada!!semua terjadi dengan sendirinya.akan selalu begitu.dan saat ini aku memutuskan untuk keluar dari semuanya.lebih mendekatkan diriku pada Tuhan.berharap Tuhan pulihkan hidupku dan juga keluargaku.satu hal yang harus kita pegang HUKUM KARMA MASIH BERLAKU….. 

Brbuat baik pada siapa pun.dan menjaga kesetiaan itu penting.Aku sudah mengalaminya.pedih sekali,sekecil apapun perbuatan kita pasti ada balasannya…Tentang aku dan Vincent kami masih bersama tapi aku bertekad aku pasti keluar dari semua ini.hidup ku tidak hanya untuk menanti kesetiaan seorang playboy.karena aku percaya Tuhan sudah sediakan jodoh terbaik buat aku.ayah dan ibuku masih belum berubah.tetap pada perbuatannya….Tapi suatu saat mereka pasti sadar dan bisa menjadi orang Tua yang terbaik untukku dan adikku.kisahku mungkin sederhana.tapi aku berharap ini bisa menjadi inspirasi untuk orang di sekitarku….untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi…Amin
Free Music Online
Free Music Online

free music at divine-music.info