“Ada apa Yah?”
“Tidak apa-apa nak. Cuma tangan Ayah rada sakit.”
“Sakit? Yang sebelah mana Yah? Biar Cika pijitin.”
“Beneran nih? Entar jangan-jangan gak niat, cuma omong
doang.”
“Iiiih Ayah. Orang Cika lagi serius juga. Ya udah kalau nggak
mau dipijitin, kan
Cika yang untung. Weeeeek...”
“Hahaaa, iya-iya..nih, sebelah sini nih yang sakit. Dipijitin yang
bener ya nak,
nanti kalau ada pentholnya Lek Ndhut Ayah beliin.”
“Beneran? Sir, yes sir!!”
Sore itu, tidak terasa firasat
apapun. Kedua orang ini, Cika dan Maryono, anak dan bapak melakoni
kebiasaan mereka sehari-hari atau mungkin sesore-sore, bercengkerama di
kursi teras. Sedangkan ibunya, Surhaningsih menyiapkan makan malam di
dapur. Mereka selalu bercanda ria, melepas dan mencurahkan semua penat
masing-masing, menceritakan apa yang telah mereka alami di pagi hari
tadi kepada masing-masing pula.
Riang serta gembira. Begitulah
kata-kata yang dapat melukiskan suasana di dalam keluarga harmonis ini.
Cika setiap sore menunggu kakaknya pulang dari sekolah bersama dengan
ayah dan ibunya. Haaaah, memang membahagiakan bukan kepalang. Setelah
kakak datang, mandi, kemudian mereka berempat menunaikan ibadah Sholat
Maghrib bersama. Ayah menjadi imam, yang lainnya menjadi makmum. Setalah
sholat Maghrib, mereka makan bersama sambil menonton televisi di ruang
keluarga.
Kemudian dilanjutkan kembali
acara curhat. Saat ini giliran sang kakak yang menceritakan keluh
kesahnya terhadap hari itu. Tentang teman-temannya, pacarnya...cuit
cuiiit, dan yang utama tentang pelajaran yang diterimanya. Bisa dibilang
keluarga ini adalah salah satu keluarga berpendidikan. Meskipun orang
tua bekerja sebagai seorang petani, anak-anaknya sering mendapat ranking
di kelas. Hal tersebut juga merupakan didikan kedua orang tua ini yang
mengajarkan kepada anaknya cara-cara tertentu agar berhasil dalam
belajar.
Setelah acara curhat selesai,
mereka akan guyon-guyon alias bercanda. Dan anggota keluarga yang paling
sering bercanda antara satu dengan yang lain adalah Cika dan bapakanya.
Ia dan ayahnya sering bercakap-cakap dengan cara membolak-balik kata.
Misalkan ia berkata: “Aku pengen tuku bakso (aku ingin beli bakso)”,
dibalik secara tidak beraturan menjadi “Ka’u ngepen ukut sakbo”.
Kemudian, ia dan ayahnya juga sering bermain teka-teki dengan taruhan
uang, dan paling sedikit adalah Rp.5.000,-. Misalkan ada teman Cika yang
meminjam alat gosok di rumahnya. Ayahnya berkata,”Habis.....apa Cik?
Lanjutkan! Nanti ayah beri uang Rp.50.000,- kalau benar.” Maksud aslinya
yaitu habis pinjam dikembalikan. Tetapi yang menjadi jawabannya adalah
merupakan makna tersendiri di luar maksud aslinya.
“Hmmmmm....apa yha...? Habis gelap terbitlah terang
mungkin?”, Cika menerka.
“Adduuugh!! Sontoloyo!!! Kok yha beneer....ayah kan jadi rugi
Cik. Ckck. Priben tho.”
“Lha kan yang suruh tebak ayah sendiri...jadi yang salah
siapa? Yang untung siapa? Hahahaaaaaaaaa.......”
“Ya udah. Ayah nyerah degh. Anak muda memang pintar
bercicit”
“Owww...so pasti donk. Mana uangnya?”
“Heheee...berhubung ayah belum punya uang, gimana kalau
besok ayah cari, tetapi cari uang kan butuh tenaga, makanya
kamu pijitin sekarang. Gimana?”
“Ahh ayaaaah......yo wes nho.”
“Siiiiippp..”
Ia juga paling suka menggigit
dengkul ayahnya itu. Setelah tergigit, ayahnya akan menyerangnya balik
dengan menggelitikinya hingga ia ketawa ngakak. Apabila perang ini terus
saja berlanjut, geledeg dari mulut ibunyalah yang akan menghentikannya.
Merekan berdua akan diam seketika apabila hal ini terjadi. Hanya sang
kakak saja yang masih berani cengengesan melihat tingkah laku
keluarganya.
Malam itu, ayahnya terbangun
karena merasakan sakit di tangan sebelah kanannya. Ibunyapun juga ikutan
terbangun. Mereka akhirnya tidak bisa tidur, karena sekali terbangun,
ayahnya tidak akan bisa tidur kembali, dan terpaksa ibunya menemani.
Mereka aka bercerita tentang tetangga-tetangga yang kadang membuat
jengkel, dan topik yang paling sering adalah mengenai anak-anaknya.
Paginya, tangan ayahnya kambuh
lagi. Mereka segera memeriksakannya ke dokter di Madiun. Bagai ada petir
yang menyambar kepala mereka, bagai terperosok ke dalam jurang terdalam
di Arizona, kabar itu menusuk hati mereka. Ayahnya difonis menderita
penyakit tumor ganas di dekat paru-paru kiri. Fonis ini telah dapat
dipastikan benar karena telah dilakukan berbagai uji laboratorium.
Segera setelah mendengar kabar
buruk ini para tetangga datang memberi dorongan keluarga ini bahwa ayah
Cika akan segera sembuh. Meskipun Cika tahu bahwa hal ini mustahil
terjadi, namun ia tetap percaya akan keajaiban Tuhan.
Tanpa pikir panjang, mereka pada
memutuskan agar ayahnya dirawat inap di rumah sakit umum daerahnya.
Cika tetap menjalani kehidupannya sebagai seorang anak yang berbakti
sekaligus pelajar seperti biasanya, meskipun pikirannya masih agak
terganggu perihal ayahnya. Setiap pulang sekolah ia nebeng tetangganya
yang akan menjenguk ayahnya. Semua aktifitas dilakukannya di rumah
sakit. Mandi, sholat atau ibadah lain plus berdo’a untuk kesembuhan
ayahnya, makan, tidur, bahkan belajar pun dilakukannya di sana. Tidak
pernah sekalipun ia meninggalkan ayahnya barang sehari. Kemudian esok
harinya, ia nebeng lagi dengan pamannya yang belanja sayur di pasar
untuk dijual di daerahnya. Ia mandi, ganti baju, dan sarapan di rumah.
Baju-bajunya dicucikan oleh bibinya. Setelah pulang sekolah ia kembali
menghabiskan waktu bersama ayah dan keluarganya di rumah sakit. Demikian
hal ini diulang-ulang selama kurang lebih satu minggu.
Setelah kurang lebih satu minggu
ayahnya dirawat inap di rumah sakit itu, pihak rumah sakit mengusulkan
untuk mem-bawa ayahnya ke Rumah Sakit Moewardi di Solo untuk men-dapat
perawatan lebih lanjut. Mendengar keputusan ini, hati Cika sangat ngilu.
“Ya Allah, penderitaan apa lagi yang Kau berikan kepada ayahku. Berilah
ia kesembuhan ya Allah.”. Ia terus berdo’a sepanjang waktu. Tak ‘kan
bisa ia tidak melihat wajah ayahnya barang sehari saja, karena ,
ayahnyalah yang membuatnya berlari kencang mengejar prestasi. Tapi mau
apa lagi. Bila ini memang jalan terbaik agar ayah tercintanya bisa
sembuh, ia merelakannya pindah ke Solo.
Ketika ayahnya telah resmi
menjadi pasien RS Moewardi di Solo, ia kembali menekuni aktifitasnya
seperti sehari-hari sebelum ayahnya sakit. Hanya bedanya, ia menjalani
detik-detik subuh hingga petang tidak lagi bersama sang keluarga
terkasih, tetapi bersama paman-bibinya yang bertempat tinggal di
seki-tar rumahnya. Sungguh malang nasibnya. Ia tidak memiliki te-lepon
untuk menelepon ayah, ibu serta kakanya di Solo sana. Ia berusaha keras
memendam rasa kangen yang sangat sangat ke-pada mereka. Tidak pernah
sekalipun ia menangis. Ia berusaha menjadi seorang gadis yang tegar dan
tabah di mata orang lain. Teman-teman di sekolah pun berusaha
menghiburnya, tetapi sekali lagi, Cika tak pernah tidak menunjukkan
keceriaan dan kejahilannya, meskipun di dalam, ia serasa ingin menjerit,
lari dari kenyataan pahit dunia.
Suatu hari, kabar terburuk
sedunia itu pun datang. Pera-saan yang menusuknya ini tidak akan bisa
dilukiskan dengan kata-kata. Sungguh, sungguh mustahil dipercaya.
Inalilahi wainailaihiroji’un. Ia telah kehilangan ayah tecinta, terkasih
dan ayah nomor satu di dunia-nya. Cika. Kali inilah pertama kalinya aku
melihat matanya bercucuran banyak air mata. Ia menjerit-jerit histeris,
mengungkapkan rasa tidak terima, marah dan kecewanya kepada Tuhannya.
Sangat menyedihkan melihat Cika yang seperti ini.
“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Ayaaaaaaaaaaaaaaaahh........kembalilah!!!! Ya Allah, kau tega ya Allah.
Mangapa Kau mengambilnya dariku? Buat apa Kau menciptakan seorang ayah
yang sempurna untukku apabila pada akhirnya Kau rampas lagi ia dariku?
Aku belum sempat mengucapkan rasa terimakasihku untuknya. Aku belum
sempat mengucapkan berjuta maaf kepadanya. Ya Allah, cobaan apa ini?
Apakah Kau ingin menguji rasa sayangku kapadanya? Apa Kau hanya ingin
bermain dengan perasaanku? Atau mungkin, Kau ingin menguji imanku
kapada-Mu? Ya Allah, kembalikan dia. Kumohon..........”Tangisan dan
teriakan Cika membahana di seluruh sudut lingkungan sekitar rumahnya.
Apalagi semua orang telah berkumpul di depan rumahnya karena mendengar
berita ini.
“Sudahlah Cik, jangan kau hakimi
Allah dengan diambilnya nyawa ayahmu. Relakanlah ia pergi. Biarkan ia
tidur nyenyak di sana. Ini sudah merupakan sebuah takdir. Apakah kau
ingin melihat ayahmu menderita karena tidak lekas sembuh, ataukah kau
ingin melihat ayahmu tidur dengan sebuah senyuman tersungging di
bibirnya?”, bibinya berkata.
“Aku ingin ia tidur dengan nyaman dan tenang”, Cika menjawab.
“Baiklah.
Kalau begitu. Sekarang dengarkan kata-kata bibi. Berhentilah menangis,
ambil air wudhu, lakukanlah ibadah Sholat Maghrib selama yang kau mau.
Kami akan berada di sini menunggumu”, bibinya berkata.
“Baiklah Bi.”
Cika
segera menghapus eluh di pipinya. Ia berjalan ke kamar mandi untuk
mengambil air wudhu. Kemudian ia menjalankan sholat Maghrib dengan
kusyu’ dan memohon maaf kepada Allah karena ia merupakan salah satu
hamba yang durhaka kepada-Nya.
“Ya Allah, maafkan diriku yang
memalukan dan rendah ini yang telah menghina-Mu. Aku memohon ampunanmu
untuk memaafkan semua kesalahanku kepada-Mu ya Allah. Bukakan-lah pintu
terang yang dapat membawaku kepada perasaan sadar bahwa ayahku adalah
Kau yang menciptakan, sehingga dapat Kau ambil kapanpun Kau mau.
Jauhkanlah diriku dari segala setan yang dapat membuatku ingkar
kapada-Mu ya Allah. Ya Allah, kali ini tolong kabulkanlah permintaanku.
Aku ingin agar ayahku dapat tidur tenang, tentram, serta nyaman
disisi-Mu. Jauhkanlah ia dari siksa api neraka serta siksa kubur.
Terimalah semua amal ibadahnya ketika ia masih Kau beri nafas. Ampunilah
dosa-dosanya. Pertemukanlah kembali kami sekeluarga di dalam surga-Mu.
Dan, bagi kami yang ditinggalkan
kumohon, berikanlah kami kesabaran dan ketawakallan, serta keikhlasan
untuk melepaskannya pergi. Berikanlah kami iman yang kuat, sehingga
dapat selalu menjadi hamba yang berbakti kepada-Mu. Amin, amin, amin ya
robbal ‘alamin.”, pinta Cika kepada Tuhannya.
Jenazah ayahnya telah tiba. Ia
membuka kainnya, dan melihat wajah ayahnya yang tampan dan rupawan di
sana. “Jangan, jangan menangis Cik. Tahanlah! Jangan membuat ayahmu
terluka!”, batinnya.
Semua pelayat menangis
tersedu-sedu tidak percaya akan hal ini. Ibu, kakak, paman serta bibi
baik yang dari ayah ataupun ibunya, semua pada menangis. Tetapi Cika
tidak. Ia telah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa setetes air
matapun tak kan jatuh di hari itu.
Jenazah telah dimandikan,
disholatkan dan siap diantarkan ke tempat peristirahatannya yang
terakhir. Sebagian pelayat ikut memakamkan atau lebih tepatnya melihat
prosesi pemakaman dan sebagian lagi menemani ibunya Cika di rumah.
Mereka telah sampai di tanah makam dan bersiap manguburkan ayahnya, tatapi Cika berteriak. “Tunggu!!!” Kemudian ia bersajak....
“Ayah.......Kutahu kau mendengarku....Kutahu bahwa kau tahu ini suara anakmu.....Meskipun ku tahu kau takkan mampu dan tak kan pernahmampu lagi membalas kata-kataku untukmu, tetap ‘kan kuungkapkan apa yang ada dalam lubuk hatiku...Maaf, terima kasih dan selamat jalan ayah tercinta, ayahkebanggaan, ayah sepanjang hayat dan ayah ternomor satu didunia-ku.......Semua cinta, perhatian, keringat, serta pengorbanan yangtelah kau curahkan kepadaku takkan kulupakan sepanjangdiriku masih diberi nafas hingga menjemput ajal..Jo’o ilal, sayempan dukug mpamir nang pingiku basenbinge....eok?(Ojo lali sampeyan kudug mampir neng ngipiku sabenbengi...oke?)(Jangan lupa, kau harus singgah di setiap mimpiku.....oke?)”
Pemakaman telah usai. Ia dan
kakaknya masih saja duduk di samping nisan ayahnya. Mereka bersama-sama
mengenang masa-masa yang telah mereka lalui bersama sang ayah. Mereka
berjanji satu sama lain, mulai saat ini tak kan pernah lagi
tinju-tinjuan seperti dulu. Mereka berjanji akan selalu datang dan
menjenguk ayahnya di setiap hari Minggu. Mereka berjanji mulai saat ini
akan membanggakan ayahnya dengan berprestasi setinggi mungkin. Mereka
berjanji akan membawa nama harum ayah serta ibunya hingga nanti mereka
tak diberi nafas lagi. Dan, mereka berjanji pula untuk membahagiakan
ibunya yang merupakan titipan ayahnya.
Keesokan harinya Cika masuk
sekolah. Teman sekelas berusaha mati-matian untuk membuatnya tertawa.
Jangankan tertawa, membuatnya tersenyum saja sudah minta ampun susahnya
kok. Mulai saat itulah ku tahu, bahwa Cika telah kehilangan separuh dari
keceriaan, kejahilan, dan kekocakannya selama ini. Mulai saat itu pula
ku tahu bahwa cahaya yang dulu kulihat selalu terpancar dari matanya
telah menghilang separuh. KOSONG. Begitulah yang kulihat ketika kami
beradu pandang. Sabar ya sobat. Cobaan akan selalu datang pada hamba
yang disayang Tuhannya.
Cerpen ini kupersembahkan untuk ayahku tercinta, ayahku nomor satudi dunia, ayah kebanggaan, dan ayah tersempurna di antara ayah yang pernah ada.
Ayah,...maaf, terima kasih, dan selamat jalan....
Love u 4ever dadddd.....................

Tidak ada komentar:
Posting Komentar