Kamis, 08 November 2012

Arti Sebuah Pilihan



“Mamaaaaa.......Mamaaa.....jangan pergi Maaaa......tunggu lyla !!”. Dengan tersentak, lyla tersadarkan dari mimpi nya. Jantungnya berdetak dengan cepatnya. Ya dalam beberapa hari belakangan ini wajah mama nya sering sekali muncul mimpi nya itu. “ huufft!! ohh.....ternyata hanya mimpi” pikirnya dalam hati. Keringat tampak mulai membasahi kening lyla. Dia hanya termenung, Nampak sekali ada kesedihan yang cukup mendalam, sejak lyla di tinggalkan oleh mama nya tercinta beberapa tahun yang lalu. Setelah mama nya meninggal kehidupan nya berubah drastis. Sedangkan papa nya setelah perusahaan tempat kerjanya bangkrut kini menjadi pengagguran dan sering mabuk-mabukkan dan menjadi orang yang pemarah. Sering kali pula lyla bertengkar dengan papa nya itu. Lyla merupakan anak tunggal dalam keluarga nya. Jadi tampak jelas betapa sepi nya hidup lyla. “Maaa...kenapa sih harus tinggalin lyla sendiri?? lyla kangen banget ma Mama, lyla ingin sekali ketemu maaaa


!!”tanya lyla dalam hati. Airmatanya tampak membasahi kedua bola mata indah yang mulai berkaca – kaca itu. “Hiks...hiks...kenapa mama begitu cepat ninggalin lyla sih??. lyla kembali termenung tak habis pikir. Pikiran nya sangat kacau malam ini karena hampir setiap hari selalu bertengkar dengan papa nya, akibat kebiasaan mabuk nya itu.


Sesaat kemudian ia pun membaringkan kembali tubuhnya di tempat tidur. “besok aku ada janji sama rino. Aku harus cepat - cepat tidur dan bangun pagi-pagi”. Semoga esok pagi ada khabar gembira buat ku”. Pikir lyla dengan penuh harap. Tangan nya kemudian mengusap airmata yang tersisa di pipi nya. Sesaat kemudian lyla sudah kembali tertidur lelap. Meskipun pikirannya masih menerawang jauh di antara kegelapan malam.

********

“Duk,,duk,,duk,,duk”. Suara keras dari balik pintu membangunkan lyla dari tidur nya. Dari balik jendela tampak sinar matahari sudah mulai muncul. lyla lalu mengusap mata nya yang masih mengantuk. Sesaat kemudian terdengar lagi suara gedoran dari balik pintu di ikuti suara kasar. “duk..duk..duk. Lil buka pintunya!! papah mau bicara sama kamu!!. bentak papah dari balik pintu.
“cepetan buka pintu nya!! atau papa dobrak nih!”kata papa yang sudah mulai mengeluarkan kata – kata ancaman. Lyla segera membenahi pakaiannya. Sebelum membuka pintu, lyla menarik nafas dalam-dalam supaya pikirannya tenang sejenak.


Lalu pintu itu terbuka. Dari balik pintu terlihat wajah papa yang tampak marah sekali. Nafasnya mengendus-endus tanda emosinya sudah memuncak. “kamu sengaja Yaa tidak membukakan pintu kamar!! Kamu mau melawan papa Haaahh!!. bentak papa pada lyla sambil tangan kanan nya yang mulai terangkat.


“Tampar aja Pah! Lyla dah siap kok” kalau papah masih belum puas dengan yang semalam” jawab lyla dengan lantang. Matanya dengan tajam menatap papa nya yang kian emosi mendengar jawaban dari lyla.


“Papa butuh uang buat beli minuman!” bentak papa. Tangannya kemudian di turunkannya kembali. “Lyla lagi ga punya uang pah. Lagian....kan kemarin-kemarin uang baru aja lyla kasih ke papa”. Jawab lyla sedikit menahan emosinya karena sudah capek bertengkar dengan papa nya setiap saat.
“Udah habis,” jawabnya singkat.


“Jangan bohong kamu !!Cepetannnn! Mana duitnya!”. Bentak papa lagi yang sudah sangat tidak sabar.
“ Beneran nggak ada pah! Periksa aja dompet dan kamar lyla kalau ngak percaya !!” sambil tangan lyla menadahkan tangannya mempersilahkan papa nya memeriksa kamar lyla. Papanya lalu mendorong tubuh lyla dan masuk ke dalam kamarnya. Segala benda-benda yang dia temukan segera di lemparnya begitu saja. Dalam sekejap kamar itu pun menjadi berantakan tak beraturan. Lyla hanya terdiam melihat tingkah laku papa nya itu. Lyla mencoba untuk menahan airmatanya yang mulai keluar. Hati nya terasa sakit sekali melihat papa nya yang tak seperti dulu lagi.
“Mana dompet kamu!!” tanya papa dengan kesalnya.


“ itu di atas meja belajar lyla” jawab lyla singkat saja. Papa langsung beranjak dari tempat tidur menuju meja yang di tunjuk oleh lyla. Di ambilnya dompet itu, semua isinya dia keluarkan. Didalam nya hanya di temukan selembar uang 10 ribuan saja.


“ Cuma segini aja!! jangan bohong kamu!. Mana yang lainya berikan pada papa !!” dengan nada penuh ancaman ke lyla. Lyla hanya menggelengkan kepalanya tanpa berkata sepatah kata pun. “awas yaa...!! kalau papa temukan selain ini tau rasa kamu! Jawabnya singkat sambil matanya terus memperhatikan seluruh kamar lyla. Tak berapa lama pun akhirnya dia pergi begitu saja meninggalkan lyla seorang diri. Seketika itu pun airmata turun dengan derasnya membasahi kedua pipi lyla. Tubuhnya terasa lemas sekali dan akhirnya terjatuh. Lyla duduk bersandarkan titian di tempat tidur, dengan pikiran yang kacau.


“ Maaaa....huuu...huuu..huu.. sampai kapan harus seperti ini terus.” Lyla udah nggak tahan lagi maaa..” jawab lyla dengan suara surau nya. Tapi hanya angin sepi yang berhembus menghampirinya.

********


Suasana taman siang ini keliatan sepi sekali. Padahal hari ini adalah hari minggu, tidak seperti biasanya. “ mungkin karena cuaca mendung kali yaa? Jadi sepi gini” pikir lyla yang terduduk di antara bangku taman. Mata nya menatap ke sana ke mari. Tampaknya dia menunggu seseorang. Ya lyla kebetulan siang ini ada janji dengan rino kekasihnya itu bertemu di taman. Tanpa sadar lyla terlarut dalam lamunan panjang. Entah apa yang dipikirkannya, hanya dia yang tahu. Dan “ Heyyy....melamun aja” diikuti rasa terkejut nya lyla yang tersadar dari lamunannya.


“ kamu mengagetkan aja rin...kemana saja kamu baru jam segini datang!! “ tanya lyla pada rino. “ sory tadi ada urusan kantor bentar....oh ya kamu sudah makan belum lil? Tanya rino mengubah topik pembicaraan. Wajah nya terlihat serius sesekali terkadang tersenyum pada lyla.
“ Ga rin...aku ga lapar” jawab lyla dengan suara berat. Wajah nya menunjukkan suasana yang sedang mengalami permasalahan yang amat sangat.


Tiba – tiba tangan rino memegang tangan lyla. Di eratnya tangan yang mungil dan lembut itu. “ kamu pasti habis bertengkar lagi dengan papa mu ya? Kamu yang sabar yaa....mungkin Tuhan sedang memberikan ujian buat kamu...pada akhirnya nanti pun Dia akan memberikan jalan yang terbaik buat kamu Lil” wajah lyla hanya tertunduk mendengar nasehat dari rino. Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut nya. Rino terus menatap lyla dengan penuh senyum berharap sang kekasihnya menemukan kembali semangatnya yang hampir habis.


Beberapa saat keduanya hanya bisa terdiam. Lalu rino mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah amplop berwarna coklat dia sodorkan kepada lyla. “ nih ambil kalau kamu butuh” jawab rino. Lyla hanya tertegun melihatnya, lalu di terima nya amplop itu dengan kedua tangannya. “ maafkan aku rin kalau sudah merepotkan kamu...aku janji kok kalau sudah punya uang pasti aku ganti “ jawab lyla. Rino hanya mengangguk sambil tersenyum.

“ udah ga usah di pikirin cara bayarnya...kapan – kapan aja ga apa – apa kok, lagian aku juga ikhlas ngasih nya ke kamu”
Tampak binar mata nya memandang wajah rino dengan pekat. Senyum dan kesedihan menjadi satu dalam diri lyla. Di satu sisi ia merasa tak enak hati karena telah merepotkan kekasihna itu, tetapi di lain sisi ia tak punya pilihan lagi.
“ heyy...kenapa diam!!” tangan lembut rino menepuk bahu lyla dan matanya memandang lyla penuh senyum.


“ sekali lagi terima kasih ya rin. Aku janji kalau sudah punya uang akan ku bayar segera”. Setelah itu kedua insan manusia yang sedang di mabuk asmara itu hanya terdiam membisu menemani awan yg kian gelap. Dan hari pun semakin sore.

**********

“Dari mana saja kamu!!” wajah nya tampak penuh amarah memandang lyla. Lyla hanya menoleh sebentar lalu tampak acuh membiarkan begitu saja sesosok pria separuh baya yang adalah papa nya sendiri dan lalu melangkah menuju kamarnya.
Melihat tingkah laku lyla membuat amarahnya semakin memuncak di hampiri nya anak semata wayangnya itu, lalu tiba – tiba.

“ awww....sakit pah!!! di tariknya rambut lyla yang panjang sebahu itu dengan kuat oleh si papa. Lyla hanya bisa meringis menahan sakit. Lalu di ambilnya dengan paksa tas lyla.
Wajah nya berubah gembira saat ia menemukan sebuah amplop berisi uang pemberian rino dari dalam tas lyla.

Dengan sekejap lyla langsung menghampiri sang ayah tercinta dan berusaha merebut nya kembali. Dan “plakkkk” sebuah tamparan yang kuat mengenai pipi lyla. Lyla terjatuh, akan tetapi tangannya masih sempat meraih kaki sang papa untuk menahan nya yang hendak pergi.
“jangan pa itu lyla pinjam dari rino” pinta lyla dengan sangat.

“perduli setan!! Mo dari rino kek, dari siapa kek papa ga perduli” jawab papa dengan lantang.
“ hahaha akhir nya malam ini papa bisa minum sepuasnya”
“pah... jangan di ambil pah!!! itu buat kehidupan kita sehari – hari !!”
Lyla memegang erat kaki papa nya dan memohon dengan sangat. Memohon agar papa lyla mengurungkan niatnya itu. Akan tetapi, dengan tanpa pikir panjang lalu di dorongnya tubuh lyla hingga akhirnya ia tersungkur ke lantai.

“ kamu sama saja dengan mama mu itu, lebih baik kamu susul saja mama mu itu ke akherat!!!”
dengan tawa nya yang keras akhirnya ia pergi begitu saja meninggalkan lyla. Akhirnya ia pun menangis. Dan ia tak bisa menahan emosi lagi dan “ papah jahattttt!!!!” teriak lyla dengan sekuat tenaga di ikuti keheningan malam yang datang.

********

Telepon di rumah rino tiba – tiba saja berdering, saat itu ia sudah mulai akan beranjak tidur. Lalu segera di angkatnya telp itu.
“ rin.....ini aku lyla” jawab lyla dengan suara yang berat.
“ooo kamu lil.......tumben malam – malam telp? Kamu kenapa lil ada masalah lagi dengan papa mu ya?” simpati rino mendengar suara yang tidak biasa nya dari lyla.
“ ga kok rin aku baik – baik aja, kamu tak usah khawatirkan aku.” jelas lyla, tetapi dalam hati tetap saja rino perduli dengan kekasihnya itu.

Keduanya sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya lyla kembali membuka pembicaraan.
“rin.... terima kasih banyak yach karena selama ini, jika aku selalu punya masalah kamu pasti selalu suport aku. Aku nggak tau lagi harus ngomong apa lagi ke kamu selain kata – kata ini” jawab lyla yang sedari tadi airmata nya telah membasahi kedua mata indah nya.
“kamu bicara apa sich lil? Aku jujur nggak mengerti maksud kamu?” rino tampak bertanya – tanya dalam hati.

“ nggak kok rin....aku cuma pengen ngomong aja ke kamu” sambil menahan tangis dan kesedihan yg di alami saat ini.

Suara lyla tampak terbata – bata mengucapkan kata – kata yang membuat rino menjadi heran ada apa gerangan dengan sang kekasih hati nya itu. Suasana kembali hening saat keduanya hanya terdiam tanpa sepatah kata pun.
“ rin....aku....aku...sayang kamu...” tiba – tiba telepon langsung terputus begitu rino mendengar kata – kata sayang yang terucap dari mulut lyla.
Di cobanya kembali untuk menelpon balik tetapi tidak ada jawaban, tampaknya telp lyla telah non aktif. Rino jadi berfikir – pikir sendiri tentang lyla. Rasa khawatir dan cemas seakan menghantui perasaannya.
“ rin... maafkan aku yach” ucap lyla dalam hati saat menutup telp itu.

*******
Udara dingin mulai menyelimuti pagi ini. Dari kejauhan tampak sesosok tubuh yang berjalan gontai menuju rumah lyla. Ya dia adalah papa nya lyla yang sedari malam tidak pulang, tampak berjalan dalam keadaan mabuk berat. Dia berjalan memasuki rumah itu tanpa berkata apapun. Matanya sayu berusaha menuju pintu kamar lyla.

“ duk...duk..duk..lil buka pintu nya!!!” seperti biasa kata-kata kasar sesekali keluar dari mulutnya.
Tetapi tidak ada jawaban dari dalam.
“lil!!! bukaaa!!!” suaranya mulai meninggi.
Emosinya seketika timbul, di buka nya pintu itu dengan sangat keras hingga menimbulkan suara “brakkk” akhirnya pintu terbuka. Suasana kamar gelap sekali.

“Lil dimana kamu !!jangan sembunyi jawabbb !” teriak papa saat memasuki kamar lyla. Dan tiba-tiba......raut wajah nya berubah seketika, sorot mata nya tertuju pada sudut ruangan. Disitu terlihat sesosok tubuh yang tergeletak lemas hampir tak bernyawa. Ia mendekati nya dengan perlahan di pandanginya sesosok tubuh itu yang ternyata adalah lyla putri satu-satu nya itu. Seketika emosi yang tadi nya memuncak berubah, badannya kelihatan kegetaran dan tak bisa bergerak sedikit pun.

“ li....lil....lyla” jawabnya dengan suara terbata-bata. Terduduk lah ia sambil memegang tangan dan wajah putrinya itu.
Sambil meneteskan airmata “ Lil ! Lil ! Bangun Lil.... Ini papa !!” di gerak – gerakkannya tubuh lyla tapi tidak ada jawaban.
Sekujur tubuh lyla bersimbah dengan darah yang keluar dari lengan tangan kirinya. Darah segar mengalir membasahi lantai kamar.
“li...lil.....bangun lil... Jangan pergi...” pinta papa dengan suara bergetar.

“ akhhhhhhhhhh...” di pukulnya lantai kamar beberapa kali sebagai tanda sebuah penyesalan yang amat sangat.
“ papa yang salah lil !! papa yang salah !!....seharusnya....seharusnya....” sesal nya tanpa bisa menjelaskan lebih panjang. Di benamkan wajahnya ke tubuh lyla, terdengar suarta tangis tiada henti di ucapkannya.
“ lil !! bangun lil !! jangan Tinggalkan Papa mu ini sendirian !!” tak habis – habisnya ia berkata tak karuan.

Tiba – tiba sesosok bayangan bergerak memegang nya. Papa lyla tampak kaget begitu tahu bahwa ternyata tangan lyla membelai rambutnya. Di lihatnya wajah lyla yang tengah sekarat itu terlihat tersenyum kepadanya. Antara senang dan sedih yang bercampur menjadi satu di dibelai nya wajah lyla.

“pa......pa........papah.....ga.....salah...kok” terucap kata – kata surau dari mulut lyla. Matanya hanya bisa memandangi wajah papa nya dengan tersenyum.
“ li.....li....lyla......kangen......sama.....mama”li....lyla.....ingin.....ketemu......sa...sama.....mama....pah”
jawab lyla dengan suara terbata – bata.
“ iya lil....papa yang salah...semua karena salah papa....”
“Ngg.....nggak.....pa....pa....papa....nggak.....salah kok”

“papa.....adalah....orang....yang....penuh tanggung jawab.....pada mama....dan juga....lyla”. Lyla......mau.....papa......seperti...du...dulu....lagi”.
Dengan mata yang berbinar-binar sambil memegang erat tangan lyla “ lil !! papa janji....mulai hari ini papa akan berubah !!! ya berubah demi kamu putri kecil ku !!”

“ I....iya.....lyla....percaya kok” jawab lyla yang terlihat pucat. “ iya papa janji !!! papa janji !! kita mulai lagi kehidupan ini dari awal yach”. Mulai besok ! Papa akan cari kerja, buat menghidupi kebutuhan sehari-hari kita lil !!”.

Lyla hanya tersenyum mendengar perkataan dari sang papa. Sesekali airmatanya mengalir membasahi pipinya. Lyla terlihat sangat bahagia melihat perubahan drastis dari papa nya itu. Ia sekan melihat sesosok pria yang ia kenal dulu sebelum mama nya meninggal.
“ pah...ja..jaga......diri....papa....baik-baik....yach..” seketika suara lyla terhenti, kesadarannya tiba – tiba hilang, tangan yang sedari tadi memegang pun lemas seketika.
“ Tidakkkkkkkkkkkkkkkk......lylaaaaaaaa !!!!!”

*******

“rin....rin...ini aku maya !!!!” jawab maya dengan tergesa -gesa.
“ada apa may ?? kok keliatan nya penting banget sampai pagi-pagi telp aku” jawab rino dengan terheran – heran.
“lil.....lyla rin !! lyla rin !!” hanya itu kata-kata yang terucap dari maya.
“ lyla kenapa may ?? jawab yang jelas dunk” jawab rino menjadi penasaran apa yang terjadi.
“lyla......lyla meninggal rin !! lyla meninggal !! jelas maya pada rino.


Bagai petir menyambar tubuh nya di pagi hari. Rino tak kuasa menahan gejolak dalam diri nya. Tubuhnya langsung lemas mendengar perkataan dari maya. Telp yang di pegangnya sedari tadi terlepas menghempas lantai. Kekhawatiran yang menjadi kenyataan, ia pun langsung terduduk di lantai di ikuti tangis dan sebuah penyesalan yang amat dalam mendengar berita kematian lyla.
“Rin ! Rin ! Kamu tidak apa – apa kan ? “ tanya maya berulang – ulang kali di balik telp.

Segera di ambilnya telp itu “ aku nggak apa – apa kok may...” kali ini suara rino terdengar surau tanda ia sangat terpukul sekali dengan apa yang menimpa diri nya.
Dengan bergegas segera ia menuju rumah lyla di temani oleh maya yang juga menjadi teman baik nya dan lyla.

******

Suasana pemakaman sedikit demi sedikit mulai di tinggal kan oleh para pelayat yang sedari tadi ikut menemani. Cuaca terlihat mendung tanda bahwa sebentar lagi akan datang hujan.
“ rin..... aku tunggu di mobil ya !! kamu yang tabah..... mungkin tuhan punya jalan sendiri buat lyla. Semoga ia tenang di alam sana” jelas maya memberi semangat pada rino.
“ iya may.... makasih ya” jawab rino.

Setelah itu maya meninggalkan rino seorang diri. Didekati nya gundukan tanah yang masih merah dan di taburi bunga itu. Terlihat papa lyla duduk dengan tangan memegang erat batu nisan yang tertulis nama lyla.

Rino mendekatinya dan duduk berada di samping pria separuh baya itu. “ oom....rino turut berduka cita atas meninngalnya lyla”. Lyla orang yang tegar dalam menghadapi masalah dan rino sangat sayang sekali sama lyla”. Rino ikut sedih atas kematian lyla” jelas rino dengan suara lirih.
Papa nya lyla pun menoleh dengan di ikuti senyuman ke arah rino. Di tepuk nya pundak rino dengan tangannya.

“ sama – sama nak rin.....lyla pasti juga sangat sayang sama kamu “. seharusnya oom yang berada di dalam kuburan ini bukan lyla....hiks...hiksss...” sesal nya sambil memegang erat batu nisan itu.
Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja hitam nya itu. “ ini kata -kata terakhir yang sepertinya di tulis oleh lyla sebelum meninggal, mungkin ini di tujukan buat kamu rin.....terimalah”.

Di serahkannya sepucuk kertas putih itu kepada rino. Sesaat kemudian ia berdiri dan melangkahkan diri meninggalkan rino, tampak dari kejauhan suara isak tangis nya terdengar tiada henti.

******

Titik – titik air sedikit demi sedikit jatuh ke atas bumi. Nampak nya hujan akan segera turun. Rino masih saja terpaku dengan kenyataan ini, di pandangi nya batu nisan itu oleh rino, di peganginya erat - erat. Terkadang ia pun mencium nya sesekali. “ seandai nya malam itu aku ada di sana.....aku.....aku pasti tidak akan biarkan hal ini terjadi lil !!” sebuah ungkapan dalam hati yang terucap dari mulut rino.
Lalu di bukanya sepucuk kertas yang di berikan oleh papa lyla kepadanya itu dan ia pun membacanya.

“dear rino....maafkan aku yach kalau aku tidak bisa menjadi yang terbaik buat kamu. Kamu pasti marah atas tindakan yang aku lakukan ini. Tapi !! tapi !! aku nggak punya pilihan lain rin. Aku sudah bosan dengan kehidupan ku ini. Aku ingin sekali bisa bebas!! lepas layaknya merpati putih di angkasa. Aku ingin menjadi seperti malaikat yang tak pernah mempunyai beban sama sekali. Meskipun aku tahu bahwa tindakan yang aku lakukan ini mungkin salah menurut mu. 
Rin....selama ini kamu telah banyak membantu aku, di saat aku sedih dan di saat aku senang kamu selalu berada di sisiku. Aku senang sekali rin, kamu sudah memberikan warna dalam dunia ku.....mudah – mudahan kamu mau memaafkan aku. Jujur dalam hati ku, aku sayang sekali sama kamu. Kamu jaga diri baik – baik yach. Mungkin suatu saat nanti kita akan di pertemukan kembali. Yaaaa....suatu saat nanti, dan aku pasti akan menunggu hari itu tiba !!”. luv lyla.

Bergetar hati rino membaca surat itu. Airmata nya menetes membasahi kertas itu. Dengan sekejap di peluknya gundukan tanah tempat bersemayamnya lyla. Di genggamnya erat – erat, seakan – akan lyla lah yang ia dekap.
“ lil.....bodoh kamu....hiks...hiks....kenapa kamu lakukan hal bodoh ini !!”. kamu pasti sadar bahwa perbuatan mu ini tidak akan menyelesaikan permasalahan yang kamu hadapi.... benar kan lil !!” sesal rino dengan tangan memukul – mukulkan ke tanah.

“ percuma aku menangis.... percuma aku menyesali ini semua....semua ini tidak akan mengembalikan kamu lagi”
“lil aku janji !! aku juga akan menunggu hari itu..... dan sampai kapan pun cinta ku ini tak akan pernah pudar”


“ yaaa....semoga kamu tenang di alam sana” rino mengakhiri pembicaraannya dan berdiri perlahan meninggalkan lyla seorang diri di lubang yang gelap itu. Dan akhirna hujan pun turun mengiringi kepergian rino. End

Kamis, 20 September 2012

Pahit Pada Akhirnya

Hari-hari membosankanpun telah terlewati . Tinggal aku menunggu hasil penerimaan mahasiswa.  Sambil menunggu, aku berlibur di rumah sendirian karena ayah, ibu ,dan kakak pulang ke jakarta. Otomatis aku sendirian di bandung, Tidak ada pembantu adapun supir yang juga ikut ke jakarta.
Hari Ini Senin, dan aku harus mengecek status ku di kampus tujuanku. Karna kumalas pergi sendirian aku mengajak  Ghina untuk menemaniku dan kebetulan juga dia satu tujuan denganku. Akupun BBM Ghina.


“Ghin, jemput gue dong. Gue Mau Ke kampus”. Pesanku singkat.
“Yaaah Ra, gue nggak boleh bawa mobil, lu aja yang jemput gw”. Jawabnya membalikan perintahku.
“Ah dasar, niat gue nyusahin lu malah gw yang susah!!!!” . Balasku

Akupun mengeluarkan mobil dari garasi keluar rumah dan mengunci pintu pagar. Meluncurlah mobilku kerumah Ghina. Sesampai disana aku tak berani tuk membunyikan bel aku hanya BBM Ghina agar dia segera turun, Semua itu karna ayahnya yang killer.

“Ghin, Turun Dong. Gue dah nyampe didepan rumah loe”. Pintaku.
“Kenapa Ga masuk aja?? Gw lagi siap-siap!!!”. Kata Ghina
“Nggak Ah. Ntar hawanya panas. Ada bokap loe kan???. Udah Cepetan Turun!!!”. Kataku
“Kenapa musti buru-buru sih???. Emangnya si Kunyuk kemana??”. Dia malah memprotes.
“Si Angga masih tidur !!!. Udah Turun aja loe!!”. Kututup Percakapan kami Di BBM.
Tak lama ghina pun keluar rumah menghapiriku. Lalu Ia Bertanya
“Haraaaaaa...., Udah lama nunggu???” dia mulai bercanda
“Berisik Loe, Udah kita cabut” Balasku kecut.
“Yeeeeh, Dia Marah. Hahahha.....”. Katanya

Sesampai di kampus aku menuju pusat infomasi
Hara Maudina, Itulah namaku. Nama itu terpampang di daftar mahasiswa baru. Begitupun Ghina. Akupun pulang dengan ceria. Tak sabar aku memberitakan ini pada orangtuaku. Karna mereka sangat mendukungku untuk masuk perguruan tinggi ini.

Beberapa minggu kemudian akupun masuk kampus dan menjalani ospek yang diselengarakan senior. Sama seperti saat smp ketika memasuki sma dulu, aku dipaksa memakai aksesoris aneh yang tentunya membuatku Mati Kutu. Tak terasa Ospek pun berjalan lancar walaupun dihiasi beberapa insiden. Contohnya Aku Pingsan waktu di suruh bersihin halaman sekolah. Untungnya ada yang nolongin dan nganter aku pulang. Kejadiannya dimulai dari sini....

“Kalian tuh harusnyanurut apa kata senior!!!!, Kalu disuruh nyapu, ya nyapu!!!!!.” Kata Seorang Senior dengan ganasnya. Tapi Setelah itu

Gubrakkk. Tiba tiba keadaan hening ketika Aku jatuh pingsan dihadapannya. Mereka semua panik dan membawaku ke unit kesehatan. Akupun Mulai Siuman dan bertanya..

“Dimana aku???”. Aku Kebingungan Dengan Ghina Di Sebelahku
“Kamu ada di ruang kesehatan!!!”. Kata Senior yang membentakku tadi.
“Ohhh. Jam berapa sekarang”. Aku Bertanya kembali.
“Sekitar Jam Setengah 4 Sore, Kamu mau Pulang???”. Dia menawarkanku untuk diantar pulang. Akupun hanya mengangguk, dan bertanya kepada ghina.
“Mana Angga, Ghin????”
“Angga masih ada ospek, Tadinya sih dia memang disini!.” Kata Ghina
“Angga itu Pacar kamu ya!!” Kata Sony.
“Iya Kak.” Kataku lemas.

Akupun pulang diantar pulang oleh Sony, aku mengetahui namanya dari name tag yang terpasang di jas almamaternya. Akupun sampe di rumah dengan keadaan masih lemas dan keluargaku masih berada di jakarta. Aku mengajaknya masuk.

“Makasih yaa kak, Inilah rumahku. Ayo masuk.” Tawarku.
“Ya makasih, Ini Kunci mobilnya.” Dia menyerahkan kunci mobilku
“Udah Simpen aja Ntar kakak pulang pake apa???. Paling besok aku ambil!!”. Kataku Menolaknya mengembalikan kunci mobilku.
“Ohhh ya udah. Ngomong ngomong kamu sendirian di sini!!!” Tanyanya.
“Iyaa. Keluargaku ada di jakarta kak.” Jawabku.
“Ohhh yaudah kakak pulang dulu yaa. Ntar Besok aku jemput.” Dia Pun berpamitan
“Ya. Hati hati ya kak” 

Tak lama Kemudia Terdengar mobil angga dan suara derit ban. Kiitttt...... Begitu Kencangnya bunyi itu.

“Hara Kamu ngga apa apakan???” Katanya sambil panik.
“Ngga, Aku cuman butuh istirahat aja kok!!”.
“Sukurlah. Kamu Dianter Senior ya. Tadi ghina Ngasih tau aku.”
“Yaaa. Ayo masuk. Diem aja diluar, dingin tau!!!” kataku Protes
“Iyeee. Gue Juga Tau”. Dia balik Protes.
“Mau Nginep di Sini???, Klo Mau Pake kamar kakak Gue Aja”. Tawarku, Memang Dia Sering menginap di Rumahku dan tidur di sofa. Walau begitu kami tak pernah macam macam lho...
“Iya Udah Deh. Disini Sepi ga ada Yang Jagain kamu”. Dia pun mengiyakan saja.

Pagi Ini aku diantar angga dan BBM Sony supaya Tidak Usah menjemputku. Aku satu jurusan dengan Angga. Angga mungkin cowok paling perfect dimataku, Aku tak pernah merasa sedih di sisinya. Aku selalu di sayangnya, aku pikir dialah cowok paling romantis bagiku. Contohnya hari ini, bahkan akupun tak tahu hari ini aku ulang tahun tapi angga selalu ingat. Disiapkannya kejutan untukku, Diapun bekerjasama Dengan Ghina. Kata ghina Aku harus ke cafe tempat biasa nongkrong sore ini.

“Ra, loe bisa dateng ke kafe ga sore ini??? Ada yang mau Gue kasih tau”. Kata ghina
“Bisa, Emang Ada Apa Ghin???”. Jawabku
“Udah Loe datang aja, ini penting”. Katanya Lagi
“Iyee, Ntar gue kesana”. Jawabku

Akupun Bersiap-siap untuk pergi ke kafe. Aku keluarkan mobilku dari garasi dan menuju kesana. Tak lupa aku kenakan gaun sesuai apa yang diperintah ghina. Okelah aku nurut kali ini. Akupun sampai di tujuan.

“Ada apa sih?? Kayaknya penting banget. Mana gue disuruh pake gaun segala lagi??”
“Udah loe tunggu aja”. Katanya membalas pertanyaanku
“Iyaaa. Tapi Ada apa. Katanya ada yang mau di kasih tau”. Tanyaku Ngotot.
Tiba-tiba Angga datang. Dan
“Kejutaaaaaan”. Kata angga, Ghina dan teman teman lainnya.
“Anggaaa. Ada Apa ini???”
“Hari ini kamu ulang taun. Happi Birthday ya Hara!!!”
“Ohhhh Iya Aku hampir Lupa. Makasih ya sayang....”. Kataku Sambil menitikkan airmata karna haru.
“Sama2 sayang. Aku masih punya kejutan untuk kamu”
“Apaa?”
“Nih”. Katanya sambil membuka tirai yang isinya semua orang satu kampus. Mereka semua Baris teratur yang membentuk tulisan I love U. Dari Lantai 2 aku melihatnya dengan jelas.
“anggaaaa.....”
“Ya. Ada apa??”
“Kamu ngasih tau semua orang kecuali aku!!!” Kataku pura pura marah.
“Loh kok malah marah. Kan Kejutan, kalo kamu tau bukan kejutan namanya”. Kata Angga membalas santai.
“Ihhh, kok malah santai sih. Kenapa sih dia sesabar ini??” Aku Bertanya Dalam hati. Karna dia tak pernah marah walau aku sudah membuatnya bete abis, Dia Ngga Pernah marah!!.
“Iya Sih. Aa...” Kataku menjawabnya tapi tiba tiba aku menjerit karna dia langsung menggendongku kemobilnya.

**
“Kita mau kemana??” Tanyaku.
“Udah Ikut aja. Ghina Juga tau kok, nih pake ini dulu”katanya sambil menyerahkan kain penutup mata.

Akupun memakainya dan tak lama kamipun sampai.Ternyata aku dibawa ketempat yang aku paling suka yaitu di atap gedung tinggi pada malam hari dan disana ada meja yang terdapat lilin diatasnya. Kembali aku terharu dan meneteskan air mata. Dan anggapun bertanya

“Loh kok malah nangis” Angga bertanya kebingungan
“........mmmhh.....” Aku hanya mengelengkan kepala takbisa berkata kata
“Ada apa. Kamu takut ketinggian?? Atau kamu nggak suka??” Dia semakin kebingungan.
“so sweet banget!!!” akhirnya aku bisa berkata.
“Ohhh. Tapi kamu keliatan sedih. Apa kamu mau pulang??” kata angga
“Yaudah kita pulang yuk” katanya lagi.

Aku yang takbisa berkata kata pun nurut saja. Kami pun turun. Sesampainya di lantai bawah, keadaannya gelap. Akupun memeluknya, tapi tiba tiba dari kegelapan muncul cahaya lampu berwarna yang bertuliskan “I Love U”. Ternyata ghina, dan lainnya sudah merencanakan semua ini secara matang yang tentunya atas kemauan angga.

Sudah cukup aku merasakan semua ini, tapi masih saja perasaan itu menganjal di benakku. Malah persaan ini seakan menjadi jadi saat ini. Aku pun makin tak tenang.

Angga pun mengajakku pulang. Sedangkan mobilku ghina yang bawa. Kamipun pulang membelah pekatnya malam. Tapi ....

Bukkkk
Mobil kami terguling guling sampai ringsek tak karuan. Aku Masih sadar dalam keadaan mobil terbalik. Akupun berusaha keluar mobil dibantu supir truk yang menabrak kami secara kencang itu, Setelah itu aku membantu angga keluar. Tapi Angga tak sadarkan diri, aku menelpon ambulance. Aku hanya bisa menangis dan menangis. Sampai diruang UGD angga masih tertolong. Di Bilang Padaku

“Hara sayang, jangan nangis dong. Kan Aku Masih selamat” Katanya membujukku untuk tidak menangis

“Tapi aku khawatir sama kamu......” Kataku. Mungkin ini perasaan ku itu selama ini, Angga Akan mendapat musibah.

Tapi Semua Itu Belum berakhir. Dua minggu kemudian angga pun pergi meninggalkan ku. Aku Yang Berniat membesuk dia, malah Aku menerima kejadian yang tak di inginkan ini. Dia meninggal, Aku Hanya menangis Sekencang kencangnya. Sebelum di pergi, dia bilang padaku.
“Hara, Kamu Pegang ini ya. Aku mau kamu dengar rekaman ini. Aku udah di jemput!!!” Katanya Lemas

“dijemput??. Sama Siapa??” kataku kebingungan sambil mengambil Memory card yang ada ditangannya.

“itu ada disana. Aku mau pergi..... Selamat tinggal Hara”. Katanya sambil menunjuk ke Pintu kamar, dan beberapa detik kemudian ia pun pergi, tak bernafas kembali.

Akupun sangat terpukul saat itu. Satu bulan aku bolos kuliah, aku hanya diam dalam kamar. Semua orang sangat prihatin melihatku, Aku nggak Nafsu Makan apalagi ketemu orang. Ghina hanya membujukku dan meminta agar memutar rekaman yang diberi oleh angga. Akhirnya aku mau. Kamipun memutarnya dikamarku. Angga bilang

“Hara, aku tau aku udah ngga lama lagi ada di muka bumi ini. Tapi aku sayang banget sama kamu. Sumpah aku ngga pernah bisa tidur karena kamu, aku hanya memikirkan kamu. Hara, semoga kamu bahagia dengan laki-laki yang kamu sayang. Tapi aku ingin kamu nggak ngelupain aku. Aku merencanakan untuk melamar kamu ketika lulus nanti. Tapi waktu berkata lain. Ternyata aku dijemput lebih awal. Aku Mohon kamu jangan sedih, Jika Kamu Sedih aku pun tak tenang meninggalkanmu!!!. Semoga kamu bahagia di dunia sana. Aku tidak bisa apa-apa. Aku akan senang bila melihat kau bahagia!!!. Aku Tau Mungkin kamu lagi menangis di bawah sana, tapi please janganlah menangis terus menerus, itu membuatku tak tenang!!!. Mungkin aku akan senang jika kammu bersama sony. Aku merasakan sonylah yang pantas menjadi penggantiku. Tapi bagaimanapun kau adalah hal yang terindah yang pernah ku miliki. Hara, I Love You!!!” Angga merekam kata-katanya.

Aku hanya bisa bersedih, ditinggal orang tersayang itu ternyata berat!!!. Ternyata Benar Perasaanku Selama Ini aku akan kehilangan angga untuk selamanya!!!. Mungking dulu aku merasa aku cewe paling beruntung, Memang. Tapi Sekarang Aku merasa menjadi cewe paling bersedih di dunia ini. Ditinggal Orang Paling romantis yang pernah aku kenal. Tapi Aku harus mulai hidup baru bersama orang lain. Dan pasti aku tak akan pernah melupakannya. Angga aku sayang Sama Kamu!!!
TAMAT

Cerpen Ayah - KOSONG

“Ada apa Yah?”
“Tidak apa-apa nak. Cuma tangan Ayah rada sakit.”
“Sakit? Yang sebelah mana Yah? Biar Cika pijitin.”
“Beneran nih? Entar jangan-jangan gak niat, cuma omong
doang.”
“Iiiih Ayah. Orang Cika lagi serius juga. Ya udah kalau nggak
mau dipijitin, kan
Cika yang untung. Weeeeek...”
“Hahaaa, iya-iya..nih, sebelah sini nih yang sakit. Dipijitin yang
bener ya nak,
nanti kalau ada pentholnya Lek Ndhut Ayah beliin.”
“Beneran? Sir, yes sir!!”

Sore itu, tidak terasa firasat apapun. Kedua orang ini, Cika dan Maryono, anak dan bapak melakoni kebiasaan mereka sehari-hari atau mungkin sesore-sore, bercengkerama di kursi teras. Sedangkan ibunya, Surhaningsih menyiapkan makan malam di dapur. Mereka selalu bercanda ria, melepas dan mencurahkan semua penat masing-masing, menceritakan apa yang telah mereka alami di pagi hari tadi kepada masing-masing pula.


Riang serta gembira. Begitulah kata-kata yang dapat melukiskan suasana di dalam keluarga harmonis ini. Cika setiap sore menunggu kakaknya pulang dari sekolah bersama dengan ayah dan ibunya. Haaaah, memang membahagiakan bukan kepalang. Setelah kakak datang, mandi, kemudian mereka berempat menunaikan ibadah Sholat Maghrib bersama. Ayah menjadi imam, yang lainnya menjadi makmum. Setalah sholat Maghrib, mereka makan bersama sambil menonton televisi di ruang keluarga.


Kemudian dilanjutkan kembali acara curhat. Saat ini giliran sang kakak yang menceritakan keluh kesahnya terhadap hari itu. Tentang teman-temannya, pacarnya...cuit cuiiit, dan yang utama tentang pelajaran yang diterimanya. Bisa dibilang keluarga ini adalah salah satu keluarga berpendidikan. Meskipun orang tua bekerja sebagai seorang petani, anak-anaknya sering mendapat ranking di kelas. Hal tersebut juga merupakan didikan kedua orang tua ini yang mengajarkan kepada anaknya cara-cara tertentu agar berhasil dalam belajar.


Setelah acara curhat selesai, mereka akan guyon-guyon alias bercanda. Dan anggota keluarga yang paling sering bercanda antara satu dengan yang lain adalah Cika dan bapakanya. Ia dan ayahnya sering bercakap-cakap dengan cara membolak-balik kata. Misalkan ia berkata: “Aku pengen tuku bakso (aku ingin beli bakso)”, dibalik secara tidak beraturan menjadi “Ka’u ngepen ukut sakbo”. Kemudian, ia dan ayahnya juga sering bermain teka-teki dengan taruhan uang, dan paling sedikit adalah Rp.5.000,-. Misalkan ada teman Cika yang meminjam alat gosok di rumahnya. Ayahnya berkata,”Habis.....apa Cik? Lanjutkan! Nanti ayah beri uang Rp.50.000,- kalau benar.” Maksud aslinya yaitu habis pinjam dikembalikan. Tetapi yang menjadi jawabannya adalah merupakan makna tersendiri di luar maksud aslinya.


“Hmmmmm....apa yha...? Habis gelap terbitlah terang
mungkin?”, Cika menerka.
“Adduuugh!! Sontoloyo!!! Kok yha beneer....ayah kan jadi rugi
Cik. Ckck. Priben tho.”
“Lha kan yang suruh tebak ayah sendiri...jadi yang salah
siapa? Yang untung siapa? Hahahaaaaaaaaa.......”
“Ya udah. Ayah nyerah degh. Anak muda memang pintar
bercicit”
“Owww...so pasti donk. Mana uangnya?”
“Heheee...berhubung ayah belum punya uang, gimana kalau
besok ayah cari, tetapi cari uang kan butuh tenaga, makanya
kamu pijitin sekarang. Gimana?”
“Ahh ayaaaah......yo wes nho.”
“Siiiiippp..”

Ia juga paling suka menggigit dengkul ayahnya itu. Setelah tergigit, ayahnya akan menyerangnya balik dengan menggelitikinya hingga ia ketawa ngakak. Apabila perang ini terus saja berlanjut, geledeg dari mulut ibunyalah yang akan menghentikannya. Merekan berdua akan diam seketika apabila hal ini terjadi. Hanya sang kakak saja yang masih berani cengengesan melihat tingkah laku keluarganya.

Malam itu, ayahnya terbangun karena merasakan sakit di tangan sebelah kanannya. Ibunyapun juga ikutan terbangun. Mereka akhirnya tidak bisa tidur, karena sekali terbangun, ayahnya tidak akan bisa tidur kembali, dan terpaksa ibunya menemani. Mereka aka bercerita tentang tetangga-tetangga yang kadang membuat jengkel, dan topik yang paling sering adalah mengenai anak-anaknya.


Paginya, tangan ayahnya kambuh lagi. Mereka segera memeriksakannya ke dokter di Madiun. Bagai ada petir yang menyambar kepala mereka, bagai terperosok ke dalam jurang terdalam di Arizona, kabar itu menusuk hati mereka. Ayahnya difonis menderita penyakit tumor ganas di dekat paru-paru kiri. Fonis ini telah dapat dipastikan benar karena telah dilakukan berbagai uji laboratorium.



Segera setelah mendengar kabar buruk ini para tetangga datang memberi dorongan keluarga ini bahwa ayah Cika akan segera sembuh. Meskipun Cika tahu bahwa hal ini mustahil terjadi, namun ia tetap percaya akan keajaiban Tuhan.


Tanpa pikir panjang, mereka pada memutuskan agar ayahnya dirawat inap di rumah sakit umum daerahnya. Cika tetap menjalani kehidupannya sebagai seorang anak yang berbakti sekaligus pelajar seperti biasanya, meskipun pikirannya masih agak terganggu perihal ayahnya. Setiap pulang sekolah ia nebeng tetangganya yang akan menjenguk ayahnya. Semua aktifitas dilakukannya di rumah sakit. Mandi, sholat atau ibadah lain plus berdo’a untuk kesembuhan ayahnya, makan, tidur, bahkan belajar pun dilakukannya di sana. Tidak pernah sekalipun ia meninggalkan ayahnya barang sehari. Kemudian esok harinya, ia nebeng lagi dengan pamannya yang belanja sayur di pasar untuk dijual di daerahnya. Ia mandi, ganti baju, dan sarapan di rumah. Baju-bajunya dicucikan oleh bibinya. Setelah pulang sekolah ia kembali menghabiskan waktu bersama ayah dan keluarganya di rumah sakit. Demikian hal ini diulang-ulang selama kurang lebih satu minggu.


Setelah kurang lebih satu minggu ayahnya dirawat inap di rumah sakit itu, pihak rumah sakit mengusulkan untuk mem-bawa ayahnya ke Rumah Sakit Moewardi di Solo untuk men-dapat perawatan lebih lanjut. Mendengar keputusan ini, hati Cika sangat ngilu. “Ya Allah, penderitaan apa lagi yang Kau berikan kepada ayahku. Berilah ia kesembuhan ya Allah.”. Ia terus berdo’a sepanjang waktu. Tak ‘kan bisa ia tidak melihat wajah ayahnya barang sehari saja, karena , ayahnyalah yang membuatnya berlari kencang mengejar prestasi. Tapi mau apa lagi. Bila ini memang jalan terbaik agar ayah tercintanya bisa sembuh, ia merelakannya pindah ke Solo.


Ketika ayahnya telah resmi menjadi pasien RS Moewardi di Solo, ia kembali menekuni aktifitasnya seperti sehari-hari sebelum ayahnya sakit. Hanya bedanya, ia menjalani detik-detik subuh hingga petang tidak lagi bersama sang keluarga terkasih, tetapi bersama paman-bibinya yang bertempat tinggal di seki-tar rumahnya. Sungguh malang nasibnya. Ia tidak memiliki te-lepon untuk menelepon ayah, ibu serta kakanya di Solo sana. Ia berusaha keras memendam rasa kangen yang sangat sangat ke-pada mereka. Tidak pernah sekalipun ia menangis. Ia berusaha menjadi seorang gadis yang tegar dan tabah di mata orang lain. Teman-teman di sekolah pun berusaha menghiburnya, tetapi sekali lagi, Cika tak pernah tidak menunjukkan keceriaan dan kejahilannya, meskipun di dalam, ia serasa ingin menjerit, lari dari kenyataan pahit dunia.


Suatu hari, kabar terburuk sedunia itu pun datang. Pera-saan yang menusuknya ini tidak akan bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sungguh, sungguh mustahil dipercaya. Inalilahi wainailaihiroji’un. Ia telah kehilangan ayah tecinta, terkasih dan ayah nomor satu di dunia-nya. Cika. Kali inilah pertama kalinya aku melihat matanya bercucuran banyak air mata. Ia menjerit-jerit histeris, mengungkapkan rasa tidak terima, marah dan kecewanya kepada Tuhannya. Sangat menyedihkan melihat Cika yang seperti ini.


“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Ayaaaaaaaaaaaaaaaahh........kembalilah!!!! Ya Allah, kau tega ya Allah. Mangapa Kau mengambilnya dariku? Buat apa Kau menciptakan seorang ayah yang sempurna untukku apabila pada akhirnya Kau rampas lagi ia dariku? Aku belum sempat mengucapkan rasa terimakasihku untuknya. Aku belum sempat mengucapkan berjuta maaf kepadanya. Ya Allah, cobaan apa ini? Apakah Kau ingin menguji rasa sayangku kapadanya? Apa Kau hanya ingin bermain dengan perasaanku? Atau mungkin, Kau ingin menguji imanku kapada-Mu? Ya Allah, kembalikan dia. Kumohon..........”Tangisan dan teriakan Cika membahana di seluruh sudut lingkungan sekitar rumahnya. Apalagi semua orang telah berkumpul di depan rumahnya karena mendengar berita ini.


“Sudahlah Cik, jangan kau hakimi Allah dengan diambilnya nyawa ayahmu. Relakanlah ia pergi. Biarkan ia tidur nyenyak di sana. Ini sudah merupakan sebuah takdir. Apakah kau ingin melihat ayahmu menderita karena tidak lekas sembuh, ataukah kau ingin melihat ayahmu tidur dengan sebuah senyuman tersungging di bibirnya?”, bibinya berkata.


“Aku ingin ia tidur dengan nyaman dan tenang”, Cika menjawab.
“Baiklah. Kalau begitu. Sekarang dengarkan kata-kata bibi. Berhentilah menangis, ambil air wudhu, lakukanlah ibadah Sholat Maghrib selama yang kau mau. Kami akan berada di sini menunggumu”, bibinya berkata.


“Baiklah Bi.”
Cika segera menghapus eluh di pipinya. Ia berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Kemudian ia menjalankan sholat Maghrib dengan kusyu’ dan memohon maaf kepada Allah karena ia merupakan salah satu hamba yang durhaka kepada-Nya.


“Ya Allah, maafkan diriku yang memalukan dan rendah ini yang telah menghina-Mu. Aku memohon ampunanmu untuk memaafkan semua kesalahanku kepada-Mu ya Allah. Bukakan-lah pintu terang yang dapat membawaku kepada perasaan sadar bahwa ayahku adalah Kau yang menciptakan, sehingga dapat Kau ambil kapanpun Kau mau. Jauhkanlah diriku dari segala setan yang dapat membuatku ingkar kapada-Mu ya Allah. Ya Allah, kali ini tolong kabulkanlah permintaanku. Aku ingin agar ayahku dapat tidur tenang, tentram, serta nyaman disisi-Mu. Jauhkanlah ia dari siksa api neraka serta siksa kubur. Terimalah semua amal ibadahnya ketika ia masih Kau beri nafas. Ampunilah dosa-dosanya. Pertemukanlah kembali kami sekeluarga di dalam surga-Mu. 

Dan, bagi kami yang ditinggalkan kumohon, berikanlah kami kesabaran dan ketawakallan, serta keikhlasan untuk melepaskannya pergi. Berikanlah kami iman yang kuat, sehingga dapat selalu menjadi hamba yang berbakti kepada-Mu. Amin, amin, amin ya robbal ‘alamin.”, pinta Cika kepada Tuhannya.


Jenazah ayahnya telah tiba. Ia membuka kainnya, dan melihat wajah ayahnya yang tampan dan rupawan di sana. “Jangan, jangan menangis Cik. Tahanlah! Jangan membuat ayahmu terluka!”, batinnya.


Semua pelayat menangis tersedu-sedu tidak percaya akan hal ini. Ibu, kakak, paman serta bibi baik yang dari ayah ataupun ibunya, semua pada menangis. Tetapi Cika tidak. Ia telah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa setetes air matapun tak kan jatuh di hari itu.


Jenazah telah dimandikan, disholatkan dan siap diantarkan ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Sebagian pelayat ikut memakamkan atau lebih tepatnya melihat prosesi pemakaman dan sebagian lagi menemani ibunya Cika di rumah.


Mereka telah sampai di tanah makam dan bersiap manguburkan ayahnya, tatapi Cika berteriak. “Tunggu!!!” Kemudian ia bersajak....
“Ayah.......
Kutahu kau mendengarku....
Kutahu bahwa kau tahu ini suara anakmu.....
Meskipun ku tahu kau takkan mampu dan tak kan pernah
mampu lagi membalas kata-kataku untukmu, tetap ‘kan ku
ungkapkan apa yang ada dalam lubuk hatiku...
Maaf, terima kasih dan selamat jalan ayah tercinta, ayah
kebanggaan, ayah sepanjang hayat dan ayah ternomor satu di
dunia-ku.......
Semua cinta, perhatian, keringat, serta pengorbanan yang
telah kau curahkan kepadaku takkan kulupakan sepanjang
diriku masih diberi nafas hingga menjemput ajal..
Jo’o ilal, sayempan dukug mpamir nang pingiku basen
binge....eok?
(Ojo lali sampeyan kudug mampir neng ngipiku saben
bengi...oke?)
(Jangan lupa, kau harus singgah di setiap mimpiku.....oke?)”

Pemakaman telah usai. Ia dan kakaknya masih saja duduk di samping nisan ayahnya. Mereka bersama-sama mengenang masa-masa yang telah mereka lalui bersama sang ayah. Mereka berjanji satu sama lain, mulai saat ini tak kan pernah lagi tinju-tinjuan seperti dulu. Mereka berjanji akan selalu datang dan menjenguk ayahnya di setiap hari Minggu. Mereka berjanji mulai saat ini akan membanggakan ayahnya dengan berprestasi setinggi mungkin. Mereka berjanji akan membawa nama harum ayah serta ibunya hingga nanti mereka tak diberi nafas lagi. Dan, mereka berjanji pula untuk membahagiakan ibunya yang merupakan titipan ayahnya.



Keesokan harinya Cika masuk sekolah. Teman sekelas berusaha mati-matian untuk membuatnya tertawa. Jangankan tertawa, membuatnya tersenyum saja sudah minta ampun susahnya kok. Mulai saat itulah ku tahu, bahwa Cika telah kehilangan separuh dari keceriaan, kejahilan, dan kekocakannya selama ini. Mulai saat itu pula ku tahu bahwa cahaya yang dulu kulihat selalu terpancar dari matanya telah menghilang separuh. KOSONG. Begitulah yang kulihat ketika kami beradu pandang. Sabar ya sobat. Cobaan akan selalu datang pada hamba yang disayang Tuhannya.


Cerpen ini kupersembahkan untuk ayahku tercinta, ayahku nomor satu
di dunia, ayah kebanggaan, dan ayah tersempurna di antara ayah yang pernah ada.

Ayah,...maaf, terima kasih, dan selamat jalan....


Love u 4ever dadddd.....................

Bintang Paling Bersinar


Apakah perpisahan itu benar-benar ada? Akankah datang untuk mengampiriku? Aku harap tidak! Aku tak mengerti apa arti hidupku dengan datangnya perpisahan.


Kenalin, ini sekolah gue, SMA Purnama Sakti. Gue bangga sekolah disini. Karena disini, gue bisa kenal sama yang namanya persabatan, persaingan, terlebih lagi tentang cinta. Gue duduk di kelas xi, tepatnya xi a 2. Ya, emang lagi masa labil-labilnya. Lagi masa-masanya ego gue tinggi. Ya, biasalah kalau lagi masa labil semuanya juga pasti sama kayak gue. Lo juga gitu kan kawan? Masa dimana kita itu pasti lagi penasaran sama yang namanya cinta. Walaupun cinta itu nyakitin, bikin nangis, bikin kita ga mau makan, ga mau minum, ga bisa tidur. Pokoknya cinta itu bisa bikin kita gila. Tapi, ya gitulah namanya cinta. Selalu mengundang tanda tanya yang sama sekali ga ada jawabannya.

***

Seudah gue ngenalin diri gue dan sedikit persepsi gue tentang cinta, sekarang ganti topik. Oke, kenalin ini temen gue yang lebih tepatnya adalah sahabat gue. Sahabat yang bener-bener sahabat. Ia selalu ada setiap gue butuh, ga kenal lelah buat bantu gue. Malah gue udah anggep dia sebagai sodara gue sendiri. Kebersamaan itu mungkin sekarang telah berubah menjadi persaan yang mungkin ga mungkin buat gue ungkapin ke dia. Tapi yang pasti, dia selama-lamanya bakal menjadi separuh kepingan hati gue, Andi namanya. Sobat, gue tau gue ga bakalan mungkin ngungkapin persaan gue ke dia. Pertama karena dia udah gue anggap sahabat, kedua karena gue itu cewek yang ga berani buat ngungkapin perasaan gue. Jadi, gue berusaha bersikap sewajar-wajarnya ke dia. Tapi sayang, belakangan ini dia sring memilih untuk menghindar dari gue

“Andi..” Panggil gue setengah berteiak. Andi membalikan badannya tepat ke arah namanya terdengar. Gue berlari ngedeketin Andi.

“Lo sombong ya sekarang. Udah ga mau maen lagi ke rumah gue. Ga mau ngerjain PR bareng gue lagi. Lo kenapa sih? Gue punya salah sama lo?” Tanya gue heran.

Andi hanya tersenyum dengan pertanyaan-pertanyan gue. Dari situ, gue mulai lebih ga ngerti lagi dengan apa yang terjadi pada Andi. Lalu gue pasang muka sebal. Tapi Andi malah nyubit pipi gue dengan keras sampai pipi gue sakit. Setelah itu dia ga ngomong apa-apa lagi. Dia malah pergi ninggalin gue tanpa sepatah katapun. Gue berniat untuk memanggilnya kembali tapi gue urungkan niat gue dan membiarkannya untuk pergi ninggalin gue. Mungkin dia ada sedikit problem yang ga bisa diceritain ke gue untuk pertama kalinya.

Gue pulang ke rumah sendiri. Biasanya gue kemana-mana bareng sama dia. Pokoknya dia selalu bilang kalau dia ga mau liat gue sedih, nangis dan kecewa. Tapi, kenapa sekarang dia bikin gue kecewa dengan sikapnya yang aneh dan ga bisa gue artiin. Kemana Andi yang selama ini selalu lindungin gue? Bahkan nganggap gue sebagai adiknya, bukan seseorang yang ada di hatinya. Tapi ga apa, itu juga udah lebih dari cukup biar gue pendam sendiri dan tetap diam dalam kebisuan gue akan perasaan gue.

Sehari, dua hari, tiga hari, seminggu, sebulan, dan gue ga kuat kalau harus jalanin hidup gue tanpa dia. Walaupun hanya sekedar kakak, tapi itu sangatlah berarti. Gue coba menghubungi no handphonenya, tapi tak kujung dia angkat. Lalu gue beranikan diri untuk menghubungi no telepon rumahnya.

“Hallo” terdengar suara lembut tante Marissa yang tak lain adalah mama dari Andi

“Hallo, Tante. Ini Clara.” Jawabku

“Oh, ada apa Clara?”

“Em, Andinya ada Tante?”

Pertanyaan barusan yang gue lontarkan menimbulkan detik-detik menjadi kosong. Suasana hening, seakan Tante Marissa bingung dan tak menmpunyai jawaban untuk pertanyaan gue barusan.

“An, Andi?”

“Iya Tante, ada ga?”

“Ga ada sayang, tadi dia bilang mau keluar.”

“Oh, ya udah deh Tan, makasih ya Tante. Nanti kalau dia pulang tolong sampein aja kalau aku sempet nelpon ya. Makasih Tante..”

“Sama-sama”

Tut..tut..

Lalu sambungan telepon itu terputus. Terlintas di pikiran gue lagi tentang perilaku Andi dan juga Tante Marissa yang mulai memberikan perlakuan beda terhadap gue.

Gue berjalan dengan langkah yang tergesa-gesa menuju kamar gue. Tepat di depan cermin, gue memutuskan untuk memandangi diri gue sendiri dan me-review perilaku-perilaku gue dari mulai gue kenal sama Andi dari dulu sampe sekarang. Gue emang sering jail, tapi ga kelewat batas. Gue juga sering ngomong ceplas-ceplos ke dia tapi dia juga suka nanggapinnya dengan santai dan tak pernah terlihat ada sedikitpun dendam maupun amarahnya terhadap gue selama ini. Lalu, apa yang membuat dia menjadi seperti ini? Tuhan, ini sangat membatinkan..

***

Sekarang gue berpikir, lebih baik hidup tanpa Andi daripada harus dicuekin kayak begini, cuma bikin gue makan hati aja. Sekarang gue pergi kemana-mana sendiri, ga perduli Andi ada atau engga. Di mata gue sekarang Andi udah musnah, Andi bukan Andi yang gue kenal dulu. Dan gue janji, gue ga bakalan perduli lagi dengan apapun tentang dia. Seperti dia yang udah ngehindarin gue selama ini dan membuang rasa perdulinya pada gue. Dan gue bakalan lakuin hal yang sama.

“Clara, liat deh itu ada apa? Kok pada rame gitu ya?” Tanya Anita, temen gue saat gue dan dia melewati lapangan.

“Ga tau, dan gue udah ga mau tau” ucap gue waktu itu.

“Lo, kenapa sih? Kok jadi berubah drastis gini! Lo gila ya?”

“Lo tau kenapa gue jadi seperti ini? Lo liat dong, Andi yang sebegitu perhatiannya sama gue, sekarang malah ngehindarin gue dan ga perduli lagi sama gue. Dan itu artinya buat apa gue merduliin orang lain, kalau nyatanya orang lain juga perdulinya cuma sesaat sama gue!”

Anita mengerutkan matanya, lalu dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya udahlah, urusan lo!” Ucapnya lalu pergi ninggalin gue.

Gue ga mendekat. Yang sebenernya gue juga penasaran dengan apa yang terjadi ditengah kerubungan. Hingga akhirnya gue memutuskan untuk pulang. Sesekali gue nengok ke arah sana, gue liat orang yang tadi dikerubungin digotong oleh siswa laki-laki ke dalam mobil. Sepertinya akan dibawa ke rumah sakit.

***

“Claraaaaaa...” Panggil mama gue dari bawah.

“Iya maaa..” Jawab gue dengan nada malas karena masih ngantuk.

“Sini sayang, pentiiiing.”

“Ada apa sih ma?” Tanya gue penasaran. Dengan berat hati gue turun dari lantai 2 menuju lantai dasar.

“Sayang, jaga rumah ya.”

“Hah? Cuma gitu doang kok, kata mama penting.” Protes gue.

“Iya lah penting. Mama mau ngejenguk dulu Andi di rumah sakit. Kamu kan pasti udah sering kesana. Gimana perkembangannya?”

DEG.. Jantung gue seakan terhenti. Apa yang mama bilang? Andi di rumah sakit? Dia kenapa? Gue ga pernah ngejenguk, gue bahkan ga tau kalau Andi ada di rumah sakit.gue harus gimana? Apa yang harus gue bilang sama mama.

***

Di saat waktu kosong, gue nyempetin dan beraniin diri gue buat datang ke rumah sakit.

“Kenapa lo datang Ra?”

Anita ngelirik sinis sama gue. “Oh iya, lo mau ngejenguk siapa Ra? Apa ada yang harus lo jenguk? Atau lo mau ngejenguk seseorang yang menurut lo ga merduliin lo?” Tanyanya dengan nada yang sangatlah super sinis.

“Sebegitu bencinya lo sama gue? Sampai nada bicara lo sinis kaya gitu?” Tanya gue dengan air mata yang siap meluncur.

Anita berdiri dari bangku ruang tunggu. “ Harusnya lo nanya ke diri lo sendiri. Sebegitu bencinya lo sama orang yang jelas-jelas merduliin lo?” Lalu dia pergi ninggalin gue.

Gue melangkah menuju ruangan dimana Andi dirawat.

Tok.. Tok.. Tok..

“Masuk” terdengar suara Tante Marissa yang sepertinya sedang menangis meratapi anaknya. Gue membuka pintu dengan perlahan. Mengartikan apa yang sebenarnya terjadi.

“Tan.. Tante..” Gue menunduk dan mendekati Tante Marissa lalu gue memeluknya.

“Maaf Tan,” ucap gue dengan tangis yang bisa gue tahan.

“Tante yang harusnya minta maaf. Tante tau, sikap tante sama Andi pasti bikin kamu kecewa. Tapi Andi terlalu sayang sama kamu sampai dia ga mau kamu tau tentang keadaan dia sekarang.” Ucap Tante Marissa. Mata gue berbinar, menetes dan terus menetes. Mengharapkan kejelasan tentang apa yang Tante Marissa bilang ke gue.

“Andi berpenyakit Clara, kamu dapat lihat sendiri dengan tak berdayanya Andi membiarkan tubuhnya terkapar. Dia selalu ingin melindungimu, tetapi dia tak bisa melindungi dirinya sendiri. Belakangan ini dia sering jatuh pingsan, otaknya terasa terlalu berat. Tapi dia hanya bisa menyembunyikan semua itu di hadapanmu. Dia ga mau liat kamu sedih, lebih baik melihat kamu membencinya daripada harus melihatmu untuk menangisinya.”

Gue terdiam sejenak. Mencerna apa yang diucapkan Tante Marissa.

“Ja.. Jadi..” Mata gue terpejam perlahan. Semua kenangan manis diantara gue dan Andi ternodai oleh keegoisan gue. Suasana hening. Tiada kata-kata lagi dari mulut Tante Marissa. Ia pun tela terhenti dari tangisnya krena nafasnya telah terengah menahan kesakitan ini. Gue duduk di dekat Tante, lalu gue mendengar perut tante yang berbunyi. Sepertinya ia lapar, mungkin ia belum makan.

“Tante, aku mau keluar dulu sebentar.” Gue pamit buat keluar, yang sebenernya gue mau beli makanan buat Tante, sekalian buat gue juga.

15 menit kemudian..

Gue berjalan dengan pasti buat nyerahin makanan ini buat Tante Marissa yang udah laper.

BRAK.. Makanan yang gue bawa terjatuh dan berhamburan sudah saat gue melihat teriakan histeris Tante Marissa keluar ruangan dengan beberapa suster yang menggiring ranjang beroda. Setelah itu gue ga bisa liat apa-apa lagi. Mungkin mata gue udah buta karena gue ga kuat melihat kenyataan.

***

Mata gue terbuka perlahan, terasa semu bayangan bayangan yang gue liat. Beberapa detik kemudian gue sadar bahwa gue ga buta seperti yang gue kira waktu itu. Ternyata gue pingsan. Gue liat di samping gue ada Tante Marissa. Gue terbangun dan langsung memeluk Tante Marissa. Tante Marissa yang ga sadar kalau gue udah sadar langsung menghapus air matanya.

“Tan, aku mau ke ruangan Andi.” Ucap gue lemas.

“Sudahlah, kamu ga akan bisa menyusulnya. Dia terlalu jauh untuk kamu susul” jawabnya lembut.

“Maksud Tante?”

“Ayo kita pulang. Nanti akan tante ceritakan semuanya sama kamu. Tante juga akan meminta ijin pada orang tuamu agar kamu diperbolehkan menginap malam ini di rumah Tante.”

Lalu kami pun segera berkemas. Yang sebenernya gue penasaran banget dengan apa yang udah terjadi. Tapi, Tante Marissa ga mau nyeritin semuanya ke gue sekarang. Jadi mau ga mau gue bungkam.

***

“Claraaa..” Panggil Tante Marissa dari luar rumah. Gue yang lagi nonton televisi lalu berlari mendekat pada Tante Marissa.

“Sekarang, akan Tante penuhi janji tante. Tante akan menceritakan semuanya padamu. Ayo ikut tante.” Aku mengikuti langkah Tante. Lalu Tante mengajaku duduk di ayunan taman rumahnya. Ayunan yang dimana dulu gue sama Andi sering banget maen ayunan disitu dan berkejar-kejaran di taman itu.

Tante Marissa memecahkan keheningan malam itu. “Liat Clara, bintang itu bintang yang paling bersinar.” Gue melihat bintang yang ditunjuk Tante Marissa. Gue masih terdiam. “Jarak ke bintang itu pasti jauuuuh sekali.” Lanjutnya.

Gue hanya mengangguk. Sampai saat ini gue belum tau apa yang sebenrnya maksud yang dibilang sama Tante Marissa.

“Clara, kamu kangen sama Andi?”

Deg, pertanyaan itu...

“Iya tante.” Jawabku singkat sambil menahan air mataku.

“Ini” lalu Tante Marissa menyodorkan sesuatu padaku.

Clara, sebelumnya gue mau minta maaf atas kelakuan gue yang bikin lo sedih, kecewa dan bikin lo benci sama gue. tapi percaya deh, gue ngelakuin ini karena gue pikir inilah jalan satu-satunya biar lo ga terlalu kaget dengan apa yang terjadi.

oh iya, di surat ini, gue Cuma mau nyampein sesuatu aja. kalau lo ngerasa kangen sama gue caranya gampang kok. lo tinggal pergi keluar rumah, lalu pandangin langit dan cari bintang yang paling bersinar. karena itulah gue. lo boleh sesuka hati mandangin gue, karena gue rela dipandangin setiap detik sama lo Ra J

dan satu hal lagi, sesuatu yang buat gue ga mau liat air mata lo jatuh karena satu hal. pertama gue sayang sama lo dan sayang itu berubah menjadi cinta.

hidup dengan baik demi gue ya Ra. J

Andi

Gue ngelirik Tante Marissa. Tante Marissa hanya tersenyum sembari menunjuk bintang yang paling terang. “Dia disana” ucapnya singkat.

Gue meluk tante Marissa. Gue sadar sekarang, ternyata Andi ngejauhin gue bukan karena apapun, tapi karena dia terlalu sayang sama gue sampe dia ga mau liat setetes pun air mata di pipi gue.

Dear, Andi

Andi, walaupun lo udah ga ada di samping gue dan ga kan pernah bisa ngebuat gue benci lagi sama lo, tapi tetep ada rasa benci gue karena lo menjauh demi hal yang ga penting. Tapi sayang, rasa sayang gue ke lo ngalahin semua rasa benci dan kesalahan-kesalahan lo ke gue. Kini, gue yakin dan gue pastiin bahwa lo adalah Bintang Yang Paling Bersinar di hati gue.. Gumam gue dalam hati..

Diary Untuk Ayah


Hari mulai petang, awan yang tadinya cerah berubah menjadi gelap. Tak ada lagi sinar mentari di langit yang ada hanya cahaya-cahaya kecil dari bintang yang bertaburan di langit petang.

Saat itu, aku tidak merasakan ngantuk sama sekali. Akhirnya aku mantapkan kakiku melangkah ke luar rumah duduk termenung sendrian menatap bintang. Sampai pada akhirnya, aku tertuju kepada satu bintang yang cahayanya paling terang. Dan saat itu juga aku teringat kepada seseorang. Seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Kebetulan hari ini, tanggal 21 juli, tepat saat aku kehilangan seseorang yang berarti itu.

***

12 tahun lalu, aku mengalami peristiwa yang hebat, tepatnya pada tangal 21 Juli 1999. Pada tangal itu, aku dan keluarga pergi ke pernikahan salah satu keluarga kami. semua keluargaku sudah sibuk menyiapkan semuanya sehari sebelumnya. Menyiapkan baju dan gaun yang akan dipakai, makanan serta seserahan untuk calon pengantin. Aku sendiri sudah membeli baju baru untuk digunakan di pernikahan tersebut. Setelah semua siap, pagi-pagi sekali kita berangkat ke daerah Jombang, tempat saudaraku merayakan pesta pernikahannya. Aku naik mobil sama ayah, ibu, dan adik kecilku. Aku duduk di pangkuan ayahku, sedangkan adik berada digendongan ibuku, maklum adik masih usia 8 bulan. Sebenarnya kami akan naik mobil yang satunya, mobil teman ibu. Tapi karena mobilnya belum datang, aku memaksa ibu dan ayah untuk naik mobil yang sekarang sedang aku tumpangi. Di sepanjang perjalanan, ayah selalu mencetuskan lelucon-lelucon yang membuat aku tertawa. Ayah dan aku juga menyanyi lagu anak-anak seusiaku.

“naik naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali”

Tawa canda terus terdengar dariku dan ayah, sampai kemudian peristiwa itu terjadi. Sebuah bus besar mendahului mobilku dengan kencang, sementara di lajur yang berbeda ada sebuah tuck yang melaju kencang pula. Lalu bus tersebut tidak bisa mendahului mobilku dan malah menabrak mobilku sampai mobilku masuk ke sungai. Ggerrr…. Ccciiitttzz….. BBBrakkkk…. BBrakkkk…. BBBrakkkk….. duuuaazzz…… . Mobilku masuk kesungai, tapi aku dan ayahku terlempar keluar lewat jendala, dan kami masuk ke sawah di arah yang berlawanan dari sungai. Saat terlempar, aku tidak merasakan apa-apa. Aku hanya merasakan pelukan hangat seseorang dan dekapanan kuat yang mencoba untuk melindungiku. Setelah masuk ke sawah, aku terlepas dari pelukan dan dekapan penuh sayang itu. Yaahh… aku terlepas dari dekapan ayahku. Dan melihat ayahku berada di sampingku sedang tak sadarkan diri. Disitu aku bingung harus berbuat apa, sementara tidak ada satupun orang disana. Hanya aku dan ayahku yang berada di tengah sawah tersebut. Aku mencoba untuk menyadarkan ayah, menepuk-nepuk kedua bahunya sambil menangis dan berkata,

“ayah… ayah… bangun yah…”

“ bangun… tolong yah… ayah harus bangun….”

“ Yah… bangun yah…”



Aku sudah mencoba berkali-kali, tapi hasilnya tetap nihil. Ayah tidak bangun dari tidurnya. Aku menangis dan terus menangis sambil terus menyebut namanya, dan berharap ayah bisa bangun.

***



Tak lama kemudian, mobil yang lain dari keluargaku datang. Mereka semua menangis dan menyesali apa yang telah terjadi. Terdengar juga saudara sepupuku menangis kencang sambil meneriakkan namaku. Berharap tidak terjadi apa-apa denganku. Kemudian kami segera ditolong dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit aku diperiksa, dan dokter berbicara dengan tanteku tentang hasil pemeriksaanku.

“Dok bagaimana keadaan ponakan saya?”

“tidak ada yang terlalu parah bu, hanya saja tangan kanannya patah”

“astaghfirulloh, lalukan saja yang terbaik dok,,”

“pasti bu, kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan ponakan ibu”

“terima kasih dok”

“sama-sama bu, itu memang sudah jadi tugas kami”



Ya, hasil pemeriksaan dokter menyatakan kalau tangan kananku patah. Selain itu di tempat yang berbeda, ayah masih tidak sadarkan diri dan masih berada di ruang UGD. Ayah masih diperiksa keadaannya oleh dokter. Selang beberapa waktu, dokter yang tadi memeriksa ayah keluar, dan segera menginformasikan keadaan ayah kepada saudaraku.

“ bagaimana keadaannya dok?”

“maaf pak, kami sudah melakukkannya semaksimal mungkin” , dokter tersebut berkata dengan wajah pasrah.

“maksud dokter?”

“korban sudah tidak bisa ditolong lagi”

“innalillahi wainnailaihi rojiun”

Semua anggota keluargaku tidak percaya, kalau ayahku pergi secepat itu. Padahal ayah masih harus menjaga aku dan adikku yang masih kecil.

***



Di ruang anak ibu masih menggendong dan menyusui adik. Ibu tidak mengalami luka yang cukup serius. Ibu hanya luka memar di bagian wajah karena terbentur pintu mobil. Sedangkan adikku tidak luka sedikitpun. Ia selamat dalam keadaan baik seperti tidak ikut dalam peristiwa itu. Setelah cukup lama menyusui adik, ibu ingin ke ruangan ayah. Tapi dokter terus menghalangi ibu.

“ibu mau kemana?”

“saya mau melihat suami saya bentar dok,”

“jangan dulu bu, ibu harus menjaga bayi ibu dulu disini”

“tapi dok, saya ingin melihat suami saya sebentar, sebentar saja dok…”

“jangan bu, disusui dulu aja anaknya”

Melihat dokter yang seakan-akan menghalangi langkahnya untuk menemui ayah, ibu semakin cemas. Dari tadi ibu memang sudah mendapat firasat yang buruk. Takut terjadi apa-apa dengan ayah. Setelah dokter tersebut pergi memeriksa pasien lain, ibu langsung memantapkan langkahnya ke ruangan tempat ayah diperiksa tadi. Sesampainya di depan ruangan tersebut, ibu mendapati saudara- saudaranya menangis mengisakkan air mata. Ibu langsung menangis dan bertanya ke saudaranya.

“ada apa?? Mengapa kalian semua menangis? Mana suami saya? Suami saya baik-baik saja kan??”

“tenang… tenang…. Duduk dulu”

“enggak, saya mau lihat suami saya”

“suami kamu sudah tiba ajalnya”

“nggak…. Nggak mungkin…. Itu nggak mungkin terjadi….”

“yang sabar ya, ikhlas… kasihan suamimu kalau kamu seperti ini”

Semua orang berusaha menenangkan ibu. Ibu terus meneteskan air mata, seakan tidak percaya atas kepergian ayah yang terlalu singkat. Untunglah keluargaku berhasil menenangkan ibu.

***



Setelah semua administrasi beres, aku pulang bersama ibu dan adik. Aku sempat bertanya kepada ibu.

“bu, ayah mana? Kok nggak ikut pulang?”

“ayah masih harus di rumah sakit nak, ayah masih sakit”

“tapi aku ingin sama ayah bu…”

“ besok kalau ayah sembuh, ayah pasti pulang”

“benar ya, bu….”

“iya nak…”

Ya, saat itu semua orang memang merahasiakan kepergian ayah dariku. Takut kalau aku tidak bisa menerima kepergian ayah. Semua keluargaku memang tau, aku dan ayah seperti soulmate, dimana ada ayah pasti aku juga ada bersamanya. Aku memang anak kesayangan ayah. Ayah selalu mengutamakan kebahagiaanku. Ibu aja pernah dimarahin oleh ayah, karena ibu mencubit aku. Tapi bukan salah ibu juga sih, aku memang bandel.hehehe… .

Setelah sampai di depan rumah, aku mendapati rumahku sesak dari gerumelan orang. Tetanggaku berkumpul di rumah. Memangnya ada apa? Aku baertanya dalam hati. Tapi kemudian, aku dibawa ke rumah saudaraku,yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Ternyata aku memang sengaja disembunyikan dari ayah. Tidak lama setelah aku pergi, mobil ambulance datang mengantarkan ayah ke rumah. Semua tetanggaku sibuk, ayah langsung diangkat ke dalam, dimandikan, dikafani, dan dikuburkan. Setelah ayah dikuburkan, barulah aku dibawa pulang kerumah.

***



Hari berganti hari, aku menjalani hidupku seperti anak kecil pada umumnya. Bermain, tertawa, bercanda. Smpai suatu hari aku bertanya kepada ibu.

“bu, ayah kapan pulang? Aku kangen sama ayah bu,”

“ayah masih sakit nak, ayah masih harus di rumah sakit”

“tapi kapan ayah pulang bu?”

“kalau ayah sudah saembuh, ayah pasti langsung pulang”



Saat itu aku memang percaya dengan apa yang ibu katakan. Maklum, aku masih kecil, belum tahu mana yang bohong mana yang jujur. Aku menganggap semua yang dikatakan ibu itu memang suatu kejujuran.

Ibu mempunyai inisiatif lain. Supaya aku gag terus-terusan bertanya tentang keberadaan ayah, aku dimasukkan ibu ke taman kanak-kanak (TK), ya walaupun usiaku masih 3,5 tahun. Ibu berharap setelah aku di TK, aku bisa berbaur dengan teman-teman yang lain dan bisa lupa tentang ayah. Memang setelah berada di TK, aku selalu mengisi hari-hariku dengan kesibukan di sana. Bermain, bergurau bersama teman-temanku. Walaupun terkadang ada temanku yang meledek aku, karena mereka menganggap aku tidak punya ayah.

“ hahaha…. Kamu nggak punya ayah ya?”

“siapa bilang, ayah aku masih di rumah sakit, ayah masih sakit”

“bohong, kamu nggak punya ayah”

“aku punya ayah,”

“mana buktinya? Ayah kamu kok nggak pulang?”

“ayah pulang kalau ayah sudah sembuh”

“bohong…. Bohong…. Kamu nggak punya yah”

“ngak punya ayah…. Nggak punya ayah….”



Celotehan temanku itu sering kali membuat aku menagis dan langsung pulang. Jarak rumah dengan TK memang cukup dekat. Sesampainya di rumah, aku langsung bercerita kepada ibu. Aku memaksa ibu untuk menyuruh ayah pulang. Tapi ibu tidak menjawab, dan hanya menangis.

***



4 tahun kemudian, aku duduk di bangku SD kelas 2. Hari ini adalah hari terakhir aku bebas makan pagi, siang, sore, malam. Karena besok aku harus puasa. Ya, besok memasuki hari pertama bulan ramadhan. Sore nanti ibu mengajakku ke makam, katanya mau ngasih bunga-bunga disana. Sore tiba, aku dan ibu pergi ke makam, adik tidak ikut karena masih terlalu kecil. Sesampainya di makam, aku dan ibu berhenti di sebuah nisan bertuliskan nama dan tanggal orang tersebut meninggal. HERI SUPRAPTIONO, 21 JULI 1999, aku membaca tulisan di nisan itu. Saat itu aku memang sudah bisa membaca, kan udah kelas 2 SD. Setelah membaca tulisan itu, aku tidak asing dengan namanya. Aku seakan kenal dan tahu dekat tentang nama itu. Kemudian aku sadar bahwa itu adalah nama ayah. Aku bertanya hal itu kepada ibu tapi ibu tidak menjawab.

Kemudian kami pulang, setelah tiba di rumah, aku menanyakan hal itu lagi kepada ibu.

“buk, kenapa di makam tadi ada nama ayah?”, “makam kan tempat orang yang sudah meninggal?”

“iya nak, itu memang nama ayah”

“kenapa nama ayah ada disana?, ayahkan belum meninggal bu?”

“ayah kamu memang sudah meningla nak,”

“tapi kata ibu, ayah masih di rumah sakit?”

“ayah sudah meninggal nak”

Mendengar hal itu , aku seakan tidak percaya. Aku menangis dan marah sama ibu, karena ibu tidak jujur sama aku kalau ayah sudah meningal. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai bisa menerima itu semua. Mungkin ibu melakukan itu demi kebaikanku. Ibu menganggap dulu aku tidak akan siap dengan semuanya dan sekaranglah waktu yang ibu anggap aku siap mendengarkan semuanya.

***



Setelah kejadian itu, setiap tangal 21 Juli, aku selalu keluar menatap bintang. Aku menganggap bintang itu ayah, dan ayah akan selalu memancarkan cahayanya untukku walaupun ayah tidak lagi bersamaku. Tapi perasaan kangen dan rindu selalu ada dibenakku. Untuk mengungkapkan itu semua, biasanya aku mengungkapkan semua perasaanku itu di diary untuk ayah.

Diary untuk ayah:

“ ayah, sudah 12 tahun ayah pergi ninggalin aku. Mungkin ayah pergi karena kesalahanku. Seandainya dulu ayah tidak mendekap dan melindungi aku, mungkin ayah sekarang masih bisa hidup, walaupun aku yang harus pergi karena tidak terlindungi oleh ayah. Ayah tau ngak, kalau selama ini aku kannnggggeeeennnn banget sama ayah. Yah, sudah ribuan bahkan jutaan air mata ini menetes menangisi kepergian ayah, karena jujur yah, aku belum rela kalau ayah pergi meninggalakanku secepat ini. Ayah pergi ninggalian aku saat akau masih 3,5 tahun.ayah tahu kan, umur-umur segitu, seorang anak sangat membutuhan kasih sayang dari orang tuanya yang lebih. Tapi aku, aku tidak bisa mendapatka itu semua, walaupun masih ada ibu, ibu masih harus tetap menjaga adik. Adik butuh kasih saying lebih dari ibu daripada aku.

Ayah, sekarang aku sudah remaja. Aku ingi hidup normal seperti remaja lainnya. Saat remaja lain berbahagia dengan ayahnya. Pernah yah suatu hari, di kelas teman-teman bercerita tentang ayahnya. Ayahnya yang pernah mebelikannya ini itu, ayahnya yang pernah memeberi kado saat ultahnya, ayahnya yang selalu mencium pipinya saat akan pergi sekolah, ayahnya yang selalu mengajak jalan-jalan setiap hari minggu, ayahnya ynag pinter memasak, ayahnya yang pinter melawak, atau apapun. Mereka semua berlomba menceritakan kebaikan ayahnya masing-masing. Tapi aku?? Aku hanya diam membisu, aku bingung apa yang harus aku ceritakan ke mereka tentang ayah. Aku ingin bisa manceritakan ayah ke mereka. Aku ingin bilang ke mereka bahwa hanya ayahku, ayah yang terbaik. Tapi aku nggak bisa yah, karena ayah udah tiada. Ayah, saat-saat seperti itu, aku merasakan sakit yang begitu besar, luka yang begitu perih, aku merasa hidupku sudah tidak berarti lagi tanpa ayah disini. Aku ingin ayah kembali, disini, disampingku, dan nggak akan pergi lagi.

Terkadang aku bertanya pada Tuhan, mengapa dulu aku nggak ikut pergi sama ayah? Mengapa ayah pergi sendiri? Apa gunanya aku disini tanpa kehadiran ayah?. Tapi saat itu juga, aku sadar. Aku sadar kalau Tuhan masih sayang sama aku. Tuhan memberi kesempatan aku untuk menikmati indahnya dunia. Walaupun keindahan itu maya, karena hanya ayahlah satu-satunya sumber keindahanku. Dan aku berfikir, mungkin ini cobaan untukku, cobaan yang diberikan oleh Tuhan. Karena Tuhan tahu aku kuat dan tegar menjalani cobaan ini.

Dan yang terakhir untuk ayah, sebelum aku menghentikan goresan pena di buku diary ini, ayah, terima kasih selama ayah hidup, ayah sudah buat aku bahagia, ayah sudah buat aku tersenyum dan tertawa, terima kasih buat waktunya, terima kasih buat semuanya. Dan asal ayah tahu aku nggak akan pernah lupa tentang kenangan bersama ayah. Aku selalu sayang sama ayah, selamanya…… ”

Kini diary untuk ayah akan aku simpan dan akan slalu menjadi semangat serta motivasiku untuk menjalani kehidupakanku selanjutnya. Diary ini adalah kekuatan hidupku.
Free Music Online
Free Music Online

free music at divine-music.info